Rabu, 20 Januari 2010

salawat

 

 

Rasulullah saw bersabda:

 

"Sebagaimana orang bermimpi, aku pernah bermimpi pamanku Hamzah bin Abdullah dan saudaraku Ja'far Ath-Thayyar. Mereka memegang tempat makanan yang berisi buah pidara dan mereka makan sebentar, kemudian buah pidara itu berubah menjadi buah anggur. Kemudian mereka makan sebentar dan buah anggur itu berubah menjadi buah kurma yang masih segar. Kemudian mereka makan sebentar, lalu aku mendekati mereka dan bertanya kepada mereka: Demi ayahku jadi tebusan kalian, amal utama apakah yang kalian dapatkan? Mereka menjawab: Demi ayahku dan ibuku jadi tebusanmu, kami dapatkan amal yang paling utama adalah shalawat kepadamu, memberi minuman, dan cinta kepada Ali bin Abi Thalib (sa)." (Ad-Da'awat Ar-Rawandi, halaman 90, bab 224, hadis ke 227)

 

Rasulullah saw bersabda:

 

"Ketika aku diperjalankan di malam hari untuk mi'raj ke langit, aku melihat malaikat yang mempunyai seribu tangan, dan di setiap tangannya seribu jari-jemari. Ketika ia sedang menghitung dengan jari-jarinya, aku bertanya kepada Jibril: Siapakah malaikat itu dan apa yang sedang ia hitung? Jibril menjawab: ia adalah malaikat yang ditugaskan untuk menghitung setiap tetesan hujan, ia menghafal setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi.

 

Aku bertanya kepada malaikat itu: Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah menciptakan dunia? Ia menjawab: Ya Rasulallah, demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan di pekuburan.

 

Rasulullah saw bersabda: Aku kagum terhadap kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan. Ia berkata: Ya Rasulallah, ada yang tak sanggup aku menghafal dan mengingatnya dengan perhitungan tangan dan jari-jemariku.

 

Rasulullah saw bertanya: Perhitungan apakah itu?

Ia menjawab: Aku tidak sanggup menghitung pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok ummatmu ketika namamu disebut di suatu majlis." (Al-Mustadrah, Syeikh An-Nuri, 5: 355, hadis ke 72)

 

Perempuan Kaya dan Tukang Becak

Sedekah yang dilakukan masing-masing orang menarik untuk disimak, kejadian ini melengkapi cerita sedekah unik yang dilakukan oleh tukang becak......

 

Di Klaten, Jawa Tengah, ada seorang tukang becak miskin tapi ahli bersedekah. Meskipun miskin, ia tidak mau kemiskinannya membuatnya terhalang untuk bersedekah.

Sedekah yang dilakukannya ini tergolong cukup unik, yaitu dengan menggratiskan penumpangnya setiap hari Jum'at. Pada suatu hari, datanglah seorang penumpang perempuan menghampiri tukang becak yang shaleh tersebut. Rupanya penumpang itu datang dari kota yang sangat jauh. Penumpang tersebut orang kaya kalau diliat dari cara berpakaian dan asesorisnya. Ia tidak bertanya berapa ongkosnya apalagi menawar kepadanya. Ia langsung naik saja.

 

Setelah sampai ditempat tujuan, penumpang itu memberikan uang jasa kepada tukang becak itu, tapi malah ditolaknya secara halus.

"Maaf, saya telah berjanji pada diri saya jika hari Jum'at saya akan menggratiskan semua penumpang saya. Saya selalu berusaha memegang kuat janji itu bu,"

Setelah tukang becak pergi, penumpang itu diam. Dia kecewa karena uangnya tidak diterimanya. Perempuan itu malah penasaran," Saya akan buktikan pada hari Jum'at mendatang, saya penasaran, saya akan naik becaknya lagi. Apakah pada hari Jum'at besok ia masih tidak mau menerimanya uang jasa ataukah menerimanya??" demikian kata hati si perempuan tadi.

 

Setelah naik becaknya lagi pada hari Jum'at berikutnya, perempuan itu mencoba kembali memberi imbalan jasa, Tapi si tukang becak tetap tidak mau menerimanya.

Si Perempuan itu disadarkan oleh perilaku tukang becak dermawan itu. Ia menyadari atas kekeliruan dan kelalaian dirinya yang selalu egois dan tidak pernah memikirkan orang lain apalagi melakukan sedekah. Penumpang itu lalu memintanya agar diantarkan kerumah tukang becak itu. Ia ingin sekali mengenal lebih jauh mengenai keluarganya.

Setelah sampai dirumah tukang becak ini, perempuan itu disambut dengan hangat. Rumahnya sangat sederhana. Istrinya terlihat sangat terampil melayani tamunya. Tanda keshalehan tampak dari wajahnya, dalam caranya bertutur kata dan menghormati tamu. Sebelum pulang, si penumpang kaya raya tadi berkata kepada si tukang becak.

"Kebiasaan sedekah yang telah dilakukan bapak telah menyadarkan sikap saya selama ini yang sangat egois. Hidup saya hanya saya habiskan untuk mengais harta tanpa sedikitpun memikirkan nasib orang lain yang membutuhkan. dan akhirnya, kini saya sadar tetang arti hidup ini dari mana dan kemana kita akan menuju."

 

"Sebagai tanda syukur kepada Alloh SWT, dan rasa terima kasih saya kepada Bapak, maka ijinkan saya bapak sekeluarga untuk naik haji bersama saya dan keluarga saya."

Dengan tertegun dan seperti tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya, si tukang becak tadi menitikan air mata tanda rasa syukur, rupanya doa-doanya selama ini juga masih didengar oleh Alloh SWT, doa yang selalu dipanjatkan walaupun secara nalar tidak bisa seorang seperti dirinya bisa menabung untuk berhaji,, "butuh berapa lama saya dapat mempunyai uang untuk dapat ke tanah suci???, untuk makan sehari-hari saja saya masih sulit..??". Tapi doa seorang hamba sahaja ini rupanya sama dengan doa orang lain, entah kaya raya atapun pengusaha. Manusia didepan Alloh sama tidak ada bedanya, hanya manusia itu sendiri yang mengelompokan-ngelompokan. "Terima kasih ya Allah,, Engkau tidak pernah tidur."Subhanallah.....Sedekah sederhana seorang tukang becak  yang hatinya bersih......

Sedekah VS Ikhlas

"Sedekah itu seikhlasnya" kalimat itu biasanya yang saya gunakan kalo diminta sumbangan. "Maksudnya seikhlasnya apa sih pak" tanya temen saya, "kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan", jawab saya. " sering sedekah?" tanya temen saya, " ya karena jarang punya uang ya jarang", jawab saya. " Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya", saya nambahin.

 

Lain waktu,

"Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah", kata anak saya, "Bilangin gak ada ", jawab saya. "Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja" kata hati saya.

 

Lain waktu lagi,

"Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid", kata istri saya. "Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya", jawab saya.

 

Kata "ikhlas" menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.

Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

 

Pertemuan saya dengan komunitas TDA ( Tangan Di Atas ) di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.

 

Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.

 

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.

 

Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

 

Coba simak;

Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?

Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?

 

Bukannya lebih baik;

Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu

Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu

Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas.....

 

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung......Just Action !!!

Kaya dan Bahagia dengan Tahajud

Ternyata, memperoleh kekayaan tidak melulu melalui kerja keras. Namun, bisa diperoleh melalui keajaiban shalat tahajud. Yaitu, di samping melakukan tahajud dengan benar, khusyuk, ikhlas, dan dilakukan secara istiqamah, juga melakukan kontemplasi penuh secara integral pada diri dan kehidupan kita. Artinya, bahwa shalat tahajud merupakan sebuah syari’at dan media bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang mana, ketika shalat tahajud ini didirikan dengan sepenuh jiwa dan pikiran yang berlandaskan karena adanya keterpanggilan oleh Tuhan, memandang perbedaan sebagai peluang, mengambil manfaat dari kesulitan, menjunjung cita-cita yang luhur, melihat gambaran secara menyeluruh, menghargai kelebihan orang lain, memedulikan kepentingan orang lain, mencari jawaban-jawaban baru, menebarkan jaring seluas-luasnya, merasa percaya diri secara objektif, mengenali diri sendiri sedalam-dalamnya, dan menyambut kesempatan dengan antusias, akan diperoleh suatu kekuatan dan keajaiban yang besar bagi si pelaku tahajud.

Keajaiban ini, akan datang dengan sendirinya, di antaranya akan diperoleh kekayaan yang melimpah ruah dan kebahagiaan, selama kita melaksanakannya dengan mengikutsertakan hal-hal di atas sebagai bagian dari landasan bagaimana kita bertahajud.

Kenapa demikian? Penulis, M. Shodiq Mustika dan Rusdin S. Rauf mengungkapkan, sebab tahajud telah benar-benar terbukti memberikan efek kelapangan rezeki dan kebahagiaan sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah dalam salah satu hadits dan juga telah banyak dialami oleh hamba-hamba Allah yang taat melaksanakan shalat tahajud.

Dengan ungkapan yang membumi dan sangat menarik, penulis menjelaskan bagaimana kausalitas tahajud hingga mengakibatkan seseorang menjadi kaya dan bahagia. Kemudian, dari masing-masing pokok pikiran dan pembahasan, yaitu sebuah adaptasi terhadap dua belas prinsip transformasi yang diajukan oleh Danah Johar & Ian Marshall dalam buku Spiritual Capital, dijelaskan secara menyeluruh sampai ke sendi-sendi aspek tahajud, kekayaan, kebahagiaan, masalah, kesulitan, motivasi, dan lain sebaginya, berikut bagaimana kita bisa menarik benang merah di dalamnya.

Selain itu, di dalam buku “Keajaiban Shalat Tahajud” yang diterbitkan QultumMedia ini, kita akan mendapati betapa kita telah melalaikan suatu potensi, pasilitas, dan mutiara indah dalam hidup kita, yang mungkin saja di antaranya karena ketidaktahuan kita akan letak potensi, pasilitas, dan mutiara indah tersebut, yakni shalat tahajud ini. Padahal, andaikan semua orang mengetahuinya sejak dulu, niscaya mereka telah berebut untuk memperolehnya.


Raihlahlah keajaiban tahajud ini, niscaya akan kaya dan bahagia selamanya!
qultummedia.com