Rabu, 02 Januari 2013

Kisah Sedekah Rasulullah & Fatimah

Seperti biasanya siang itu matahari memanggang kota Makkah dengan amat terik.
Hari itu, Rasulullah baru saja berjama’ah sholat Dhuhur bersama para sahabat.
Sesaat mereka selesai membaca dzikir, tiba-tiba seorang laki-laki menyeruak dari shaf paling belakang.
Dengan merunduk-runduk ia melangkahi beberapa sof, langsung duduk dibelakang Rasulullah.
Bau anyir peluh di tubuhnya menyebar..

Tubuh lelaki tua itu, kurus, ceking dan kumuh penuh debu.
Kumis dan jambangnya lebar, rambutnya gondrong tak terurus.
Dengan terbata-bata, lelaki tua itu memohon kepada Rasulullah,

“Asssalamu’alaikum.. Yaa Rasulullah…. Sudah beberapa hari ini saya kelaparan, Tubuhku hampir telanjang karena hanya kain selembar dan compang-camping ini yang kupakai.
Saya datang dari pedusunan, nun jauh di puncak bukit sana.
Saya lapar dan capek..
Karena itu maaf ya Rasulullah, saya tak bisa ikut serta sholat berjama’ah karena tidak mampu menutup aurat.
Adakah sesuap gandum yang bisa mengganjal perut dan selembar kain penutup aurat ?.”

Sebenarnya Rasulullah sangat iba melihat keadaan orang itu.
Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan tangannya gemetar memegang tongkatnya.
Tetapi apa mau di kata, beliau tidak sedang tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kepadanya.
“Siapakah engkau, wahai saudaraku ?” Tanya Rasulullah dengan lembut sambil menjabat tangannya, sementara telapak kirinya menepuk pundak musafir yang kelaparan itu.
“Nama tidaklah penting, ya Rasulullah.
Tetapi saya adalah sorang Arabi, orang dusun yang sangat miskin.
Saya sangat merindukan bisa bertemu dengan Engkau, wahai kekasih ALLAH..
Apalagi jika Engkau bersedia mengenyangkan perut saya dan membantu menutup autrat saya hingga saya bisa kembali sholat,” jawab lelaki tua itu terbata…

Tubuhnya gemetar..
Rasulullaah sangat terharu.
Lalu sabdanya. “ Sayang sekali, wahai saudaraku.., saya sendiri saat ini juga tidak punya apa-apa seperti hal nya engkau. Tetapi orang yang menunjukkan kebaikan, sesungguhnya sama saja pahalanya dengan orang yang berbuat kebaikan..
Karena itu saya sarankan agar saudaraku datang kepada orang yang di cintai ALLAH dan Rasul NYA, yang lebih mementingkan ALLAH ketimbang dirinya sendiri.
Rumahnya sangat dekat dengan rumahku, (yang dimaksud ialah Fatimah az-Zuhra, putrid Rasulullah), mungkin ada sesuatu yang bisa diberikan kepadanya sebagai sedekah.”
Dengan diantar oleh Bilal bin Robbah, bekas budak belian berkulit hitam, berangkatlah musafir tua itu kerumah Fatimah.
Siang itu, kebetulan Fatimah ada dirumah, yang seperti hak nya rumah Rasulullaah, sangat sederhana.
Dengan sangat santun, lelaki itu berkata, “Assalamu’alaikum, wahai putri Rasulullah,”
Suaranya serak parau, tubuhnya gemetar, hampir saja jatuh terkulai.

“Wa’alaikumussalam, Siapakah kakek ?,
Adakah sesuatu yang dapat saya Bantu ?”
Dengan penuh harap, sementara kedua bola matanya berkaca-kaca,
Badui Arab itu menceritakan keadaan dirinya, sama seperti yang baru saja ia ceritakan kepada Rasulullah..
Persis, tak kurang tak lebih.
Mendengar cerita mengharukan itu, Fatimah bingung…
Ia tak berdaya, Ia tidak memiliki barang yang cukup berharga untuk di sedekahkan.
Padahal selaku keluarga Rasulullah ia telah terbiasa menjalani hidup amat sederhana, jauh di bawah taraf kehidupan rakyat jelata.
Tetapi hatinya tak tega membiarkan lelaki tua dan miskin itu tetap kelaparan sementara tubuhnya hampir-hampir tak tertutup.

Setelah mencari-cari sesuatu disekeliling rumahnya yang sempit itu, akhirnya Fatimah memberikan satu-satunya alas tidur miliknya yang biasa di pakai sebagai alas tidur Hasan dan Husain.
Dengan ikhlas, ia pun menyerahkan kepada sang tamu, musafir tadi.
Tentu saja si Badui Arabi itu terheran-heran.
Ia butuh makanan karena berhari-hari perutnya keroncongan.
Ia pun juga hampir telanjang karena sudah lama pakaiannya hanya selembar kain kumal yang sudah compang-camping.

“Maaf Wahai putri Rasulullaah yang di cintai ALLAH.
Saya kemari karena lapar dan mengharapkan selembar kain penutup aurat.
Tapi yang engkau berikan hanya ini.. Apa yang bisa saya perbuat dengan selembar kulit kambing ini ?” kata kakek itu dengan memelas.
Fatimah pun malu bukan main…
Ia bertambah bingung…

Ia kembali masuk kedalam rumahnya,
Matanya mencari-cari lagi sesuatu yang barangkali dapat ia sumbangkan kepada fakir miskin itu,
Tetapi sungguh, tak ada satu pun barang atau makanan yang layak untuk diberikan.
Ia bertanya-tanya.., mengapa ayahku mengirimkan orang ini kepadaku ?? Padahal ayah tahu aku tidak lebih kaya daripada beliau.

Sesudah merenung sejenak barulah ia teringat akan seuntai barang pemberian Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib, bibinya.
Barang itu amat indah, namun ia merasa kurang pantas memakainya karena ia dikenal sebagai pemimpin umat.
Barang itu adalah sebuah kalung emas.
Buru-buru diambilnya benda itu dari dalam kotak simpanannya, lalu dengan rasa ikhlas kalung kesayangan itu Ia berikan kepada si Badui Arabi.
Dengan senyum ramah, Fatimah pun menyerahkannya.
“Ambillah kalung ini, kakek.. Inilah satu-satunya benda berharga yang sempat saya miliki dan layak saya berikan pada kakek.
Ambillah, saya mengikhlaskannya.. Mudah-mudahan ALLAH Subhanahu wa ta’ala berkenan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih berharga.”. katanya dengan lembut tapi penuh hormat.
Nada bicara wanita terhormat itu sangat menyentuh hati.

Orang itu terbelalak melihat benda yang kini di genggamnya.
Begitu indah, pasti mahal harganya.
Dengan suka cita dan wajah berseri, orang itu pun kembali menghadap Rasulullah.
Diperlihatkannya kepada beliau kalung emas pemberian Fatimah.
Ia pun menceritakan betapa Fatimah dengan ramah dan lembut tetapi penuh hormat memberinya seuntai kalung emas yang tak ternilai harganya.

Mendengar cerita orang tua itu, Rasulullah tak mampu menahan airmatanya tang meleleh satu demi satu sambil beliau berdoa,
“Semoga ALLAH membalas keikhlasannya,”

Diantara jama’ah yang ada pada saat itu terdapat salah satu sahabat Rasulullah yang cukup mampu, Abdurrahman bin Auf.
Melihat dan mendengar cerita kakek musafir itu, Abdurrohman pun berkata, “Ya Rasulullah.., bolehkah saya membeli kalung itu ?”
Sambil menyeka kedua belah pipinya yang basah oleh air mata, Rasulullah pun menjawab,
“Belilah, jika engkau bersedia.”
Abdurrohman pun kemudian mendekati Badui Arab yang menimang-nmang kalung itu.
“Pak, berapa kalung itu mau kamu jual ?” tanyanya kepada musafir itu.
Kakek itu menoleh kepada Rasulullah,
“Bolehkah saya jual ya Rasul ?”
“ Silahkan, kalung itu milikmu” sahut Rasulullah..
Orang itu lantas berkata kepada Abdurrahman bin Auf,
“Seharga beberapa potong roti dan daging yang bisa sekedar mengenyangkan perutku. Tetapi kalau bisa tambahkanlah dengan secarik kain penutup aurat agar saya bisa menghadap ALLAH dengan sopan dan bersih, serta beberapa keping dinar agar saya bisa pulang kampung,” Jawab si Badui.
“Baiklah, Kalung itu saya beli dengan 20 dinar dan 100 dirham.
Selain itu saya tambah dengan roti dan daging secukupnya, Saya juga akan memberi pakaian serta seekor unta agar engkau bisa pulang kembali ke keluargamu di dusun,” kata Abdurrahman lagi.
“Alangkah baik budimu. Saya terima tawaranmu,” ujar orang tua itu sembari melangkah menjabat tangan Abdurrahman.

Abdurrohman pun mengantar musafir itu mengambil semua yang di janjikan di rumahnya.
Kini, musafir tua yang dekil itu bersemangat dan berseri-seri .
Ia sudah kenyang, tubuhnya bersih.
Dengan pakaian yang rapi, ia mengendarai onta yang sehat.

“ Bagaimana keadaanmu sekarang, saudaraku ?” Tanya Rasulullah.
“Alhamdulillaah, Wahai kekasih ALLAH, Saya telah mendapatkan yang lebih daripada yang saya perlukan. Bahkan saya merasa telah menjadi orang kaya.”
Rasulullah menjawab, “Terima kasih kepada ALLAH dan Rasul NYA harus di awali dengan berterima kasih kepada yang bersangkutan. Balaslah kebaikan Fatimah.”

Kontan, orang tua itu pun mengangkat kedua tangannya ke atas, “Ya, ALLAH.. Aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah dengan sepadan. Karena itu hamba memohon kepada-MU, berilah Fatimah balasan dari hadirat-MU, berupa sesuatu yang tidak terlintas di mata, tidak terbayang di telinga dan tidak terbesit di hati, yakni surga-MU, Jannatun Na’im.”
Rasulullah menyambut do’a itu dengan “aamiin” seraya tersenyum ceria.

Beberapa hari kemudian, budak Abdurrohman bin Auf bernama Sahm datang menghadap Rasulullah dengan membawa kalung yang di beli dari orang tua itu.
“Ya Rasulullah, “ ujar Sahm, “ Saya datang kemari di perintah Tuan Abdurrohman bin Auf untuk menyerahkan kalung ini untukmu, dan diri saya sebagai budak diserahkannya kepadamu”
Rasulullah tertawa, “ Kuterima pemberian itu. Nah, sekarang lanjutkanlah perjalananmu kerumah Fatimah, anakku.
Kalung ini tolong serahkan kepadanya, Juga dirimu kuberikan untuk Fatimah.”
Sahm lalu mendatangi Fatimah di rumahnya, dan menceritakan pesan Rasulullah untuknya.
Fatimah dengan lega menerima dan menyimpan kalung itu di tempat semula, lantas berkata kepada Sahm,
“Engkau sekarang telah menjadi hakku, Karena itu engkau ku bebaskan.
Sejak hari ini engkau menjadi orang yang merdeka.”
Sahm tertawa nyaring sampai Fatimah keheranan, “Mengapa engkau tertawa ?”
Bekas budak itu menjawab, “Saya gembira menyaksikan riwayat sedekah dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Kalung ini tetap kembali kepadamu, wahai putri Rasulullah, namun karena keikhlasan , kalung ini telah membuat kaya orang miskin, telah menjamin surga untukmu, dan kini membebaskan aku menjadi orang yang merdeka”….


Inilah bukti, bahwa sedekah takkan mengurangi harta benda kita…..justru sebaliknya, Allah SWT akan menggantinya dengan sesuatu yg lebih baik lagi

tukang sapu jadi milyarder

Musim haji tahun 2012 baru saja berlalu. Seperti biasanya, setiap kali
musim haji selalu saja memunculkan kisah-kisah menakjubkan. Selalu ada
cerita yang mengharukan, penuh hikmah dan menjadi pelajaran bagi umat
manusia.

Di antara kisah nyata yang terjadi di musim haji tahun 2012 ini adalah
kisah seorang tukang sapu di kota Mekkah yang mendadak kaya menjadi
seorang milyuner. Bagaimana ceritanya? Simak kisah nyatanya seperti
yang diangkat di koran al-Sabaq terbiatan Saudi Arabia tanggal 17
Dzhuhjjah lalu (02/11/2012). (Kisah ini sudah kami edit seperlunya
tanpa mengurangi inti dan substansi cerita).


Syahdan, seorang pria bernama Marimir Husain Jihar tengah menyapu
jalanan kota Mekkah yang penuh debu. Ia membersihkan jalanan kota suci
ini dari kotoran dan sampah-sampah yang dibuang manusia atau yang
diterbangkan angin sepanjang waktu.

Sudah 5 tahun, pekerja imigran asal Bangladesh itu melakoni pekerjaan
bersahaja tersebut, pekerjaan yang dipandang sebelah mata orang orang
lain. Di Arab Saudi, orang Bangladehs sering disebut sebagai
"Benggali". Orang Indonesia pun memanggil mereka dengan sebutan
demikian.

Rekan-rekan sekerja Marimir tidak pernah tahu asal-usul marimir, sebab
ada ratusan ribu (atau mungkin jutaan) orang Benggali yang menjadi
buruh kasar di negeri Haramain ini.

Sampai pada suatu hari di musim haji 2012. Ketika Marimir asyik
menyapu jalanan di sekitar wilayah Tan'im, tempat di mana orang-orang
akan memulai (miqat) ihram untuk Umrah, suatu kejadian tak terduga
terjadi.

Seorang pria tua berteriak dari seberang jalan memanggil nama Marimir.
Pria itu berpakaian Ihram, terlihat hendak melaksanakan ihram untuk
Umrah. Dari postur tubuhnya, pria tua itu jelas berkebangsaan
Bangladeh.

"Marimir…! Marimir…! Marimir….!" Teriak pria tua berkali-kali dari
seberang jalan. Namun karena banyaknya manusia dan lalu linta yang
sibuk, Marimir tidak mendengarnya.

"Marimir…! Marimir…! Marimir…!" Pria tua itu kembali berteriak. Kali
ini ia berlari ke arah Marimir menghadang jalan.

Aksi pria tua itu mengundang perhatian banyak orang di Tan'im,
termasuk dari rekan-rekan pria tua itu sendiri. Mereka heran,
bagaimana ia mengenali seorang penyapu jalan di kota suci ini.

Tanpa peduli, ia terus berlari tanpa menghiraukan mobil-mobil yang
melaju kencang. Orang-orang berteriak memperingatkannya, karena
aksinya itu mengganggu lalu lintas.

"Marimir…!". Ujar si pria tua tanpa henti.

Kali ini Marimir mendengar. Ia menoleh, dilhatnya seorang yang sudah
tua berlari ke arahnya. Ia pun heran, dari mana orang itu mengetahui
namanya.

Pria itu semakin mendekat. Dan semakin dekat. Ketika sudah jelas
baginya siapa yang datang, ia pun terperangah. Alangkah kagetnya
Marimir, ia seakan tak percaya apa yang dilihatnya.

Ternyata pria tua itu adalah abang kandungnya sendiri….

Dengan berurai air mata, si pria tua itu menghampiri Marimir yang
penuh debu, lantas ia memeluk pemuda itu dengan erat sambil menangis.

Aksi jemaah haji tersebut mengundang perhatian banyak orang. Meski
tidak mengerti, mereka mengabadikan momen penuh haru itu dengan
kamera. Setelah itu, si pria tua bercerita kepada orang-orang yang
mengitari mereka penuh keharuan.

Ia menceritakan bahwa tukang sapu itu adalah adik kandungnya sendiri,
mereka adalah dua bersaudara yang sudah lebih 5 tahun tidak bertemu.

Kisah perpisahan mereka dimulai ketika orangtua mereka meninggal dunia
beberapa tahun sebelumnya. Ayah mereka meninggalkan harta warisan yang
sangat banyak, mencapai 17 juta Riyal (sekitar Rp. 42,5 Milyar).
Bagaimana tidak, keluarganya adalah keturunan bangsawan, dan salah
satu kakek mereka adalah mantan menteri di Bangladesh.

Tapi saudara tuanya itu berbuat serakah. Ia tidak mau membagi harta
peninggalan itu dengan adiknya. Beberapa kali si adik meminta
pembagian warisan, tapi ia tidak mau. Bahkan, sang adik pernah
dijebloskannya ke penjara karena menuntut haknya!

Karena putus asa, akhirnya sang adik pergi meninggalkan Bangladeh. Ia
pun menjadi pekerja imigran di Arab Saudi. Hingga bertahun-tahun
lamanya. 5 tahun terakhir, ia menjadi tukang sapu di Mekkah.

Selepas kepergian adiknya itu, saudara tuanya pun diserang penyakit
kanker ganas.

"Ini hukuman Allah atas kezaliman saya…". Kenang haji tua itu sambil
menangis. Dan sejak itulah ia insyaf atas perbuatan serakahnya.

Bertahun-tahun pula lamanya, ia berusaha mencari jejak sang adik. Ia
bertanya kepada kawan-kawan adiknya, tapi tak satu pun yang tahu. Ia
pun sudah membuat sayembara, siapa yang mengetahui alamat adiknya akan
diberi imbalan yang besar.

Namun kabar tak kunjung datang. Sang adik entah di mana rimbanya.
Sementara penyakitnya semakin parah, hingga ia mengira umurnya takkan
lama lagi.

Hingga datang musim haji tahun 2012. Ketika ia hendak pulang ke tanah
air, ia pun melaksanakan umrah terlebih dahulu. Ia bersama
rombongannya pun berangkat ke Tan'im, miqat di mana orang Mekkah
memulai umrah.

Dan di sanalah keajaiban itu terjadi. Di tempat inilah Allah Swt
mempertemukannya dengan adiknya yang selama ini ia cari. Dilihatnya
seorang pria muda tengah menyapu jalanan, dan ternyata itu adalah
saudara kandungnya.

Saat pertemuan itu, saudara tua itu meminta maaf kepada sang adik atas
kezalimannya selama ini. Karena keserakahannya, sang adik hidup
sengsara dan terlunta-lunta sebagai tukang sapu di negeri orang.

Ia pun mengajak adiknya pulang. Ia sudah membagi harta peninggalan
orangtua mereka seadil-adilnya. Bagian untuk sang adik sudah ia
sisihkan, dan akan ia berikan tanpa mengambilnya sedikitpun, jumlahnya
milyaran rupiah ditambah properti yang sangat banyak.

Di tempat yang suci itu, sang adik memaafkan abangnya. Ia sama sekali
tidak menaruh dendam. Bahkan dirinya merasa bahagia bisa tinggal di
tanah suci ini. Di sini, ia menghabiskan waktu untuk bekerja dan
menghafal al-Qur'an.

Kepada hadirin yang berkerumun di sekitar mereka, tukang sapu yang
jadi milyuner itu mengatakan: "Sungguh ini merupakan pelajaran yang
besar dalam hidup saya. Saya sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi
orang yang teraniaya. Karena itu, saya berjanji tidak akan menganiaya
siapa pun. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, dan
diharamkannya kezaliman itu atas hamba-hambaNya".

Kisah mengharukan itu menjadi buah bibir jemaah haji. Seorang penjual
makanan cepat saji di kota Mekkah mengatakan kepada wartawan Sabg:

"Saya sering bersedekah makanan kepada tukang sapu itu, tanpa saya
pernah tahu ternyata dia adalah seorang milyuner".

sumber cerita : http://putramelayu.web.id/

Selasa, 01 Januari 2013

Sedekah yang mengharukan

Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana .
Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur
hidup.Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan
kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan
setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling."
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya
kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi
mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan
didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan
selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini
sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui
suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman
kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar
kampus.



Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan
masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang
menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih
kosong.Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani,
mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan
orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari
antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan
melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah
saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata
tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat
dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang
"tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam,
tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia
meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.Ia
menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh
saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi
mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya
merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian
itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja
sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan
kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki
ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi
saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya
itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran
disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh,
maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya
ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat
terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka
mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang
hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan,
saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan'
saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya
untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya
tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan
saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang
ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke
meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan
lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua
lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu
di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak
tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini
telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap
dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia
hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya
berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,
Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu
ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan
memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya
merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis
ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami
dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil
tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi
diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat
dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya
karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan'
untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat
membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu
yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu
lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar
ingin 'berjabat tangan' dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan
berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami
semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan
olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi
kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum.
Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat
kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan
bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum,
lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar
'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu
menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT
dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah
dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya
kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya
saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan
berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?"
dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk
membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan
dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan
ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah
ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga
para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya
datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Diakhir
pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan
mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya
."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa
'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk
menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku,
dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai
mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah
saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA
SYARAT." Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa
diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat
membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran
bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT
HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG
BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA! Jika anda berpikir bahwa
cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada
orang-orang terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai
anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak
hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang
sedang membutuhkan uluran tangannya

Sedekah Uang Terakhir

Cerita ini dialami oleh guru agama saya. Saya ingat betul dia
menceritakan kisah ini saat dia mengajar mata pelajaran agama Islam di
kelas saya (SMA) sekitar tahun 1992. Cerita ini tidak pernah saya
lupakan karena inilah cerita pertama yang saya dengar tentang balasan
nyata sebuah sedekah.
Guru agama saya sewaktu masih kuliah, hidupnya sangat pas-pasan. Untuk
makan harus dicukup-cukupkan agar dia bisa membayar biaya kuliah dan
tempat kos. Maklum, orang tuanya di kampung adalah keluarga yang
sederhana.

Karena tekad yang kuatlah guru agama saya berani meneruskan kuliah
agar dia bisa menjadi seorang sarjana agama Islam waktu itu. Modal
utama dia hanyalah keyakinan bahwa Allah pasti akan menolong umatnya
yang memang berniat ingin berjuang di jalan Islam. Memang benar,
keyakinan itu terjawab. Banyak sekali rejeki dari mengajar ngaji
panggilan yang dia dapatkan selama kuliah. Bayaran yang dia terima
besar karena rata-rata yang memakai jasa dia adalah orang-orang kaya.



Suatu ketika, guru saya kehabisan uang. Di saku celananya hanya
tersisa uang untuk sekali makan dan naik kendaraan ke salah satu
muridnya. Hari itu adalah jadwal mengajar di salah satu anak pejabat
dan biasanya tanggal itu waktunya orang tuanya ngasih amplop untuk
jasa mengajar dia. Setibanya di rumah muridnya, dia hanya ditemui
pembantu sang pejabat yang mengatakan semua keluarga ke luar kota
karena ada sesuatu yang sangat penting.

Dengan lemas, guru saya pulang dengan jalan kaki. Karena jika dia naik
kendaraan, berarti dia tidak makan nanti sorenya, karena uang yang ada
di saku cuma cukup untuk sekali makan. Saat berjalan pulang, dia
bertemu dengan nenek tua yang kelaparan. Dia kasihan. Dengan mengucap
bismillah dia memberikan uang terakhirnya untuk nenek tersebut. Dia
berkeyakinan, Allah pasti akan menolong dia saat dia lapar nanti,
karena saat ini yang paling membutuhkan adalah nenek tua tersebut.

Rupanya harapan guru saya langsung dikabulkan Allah. Baru beberapa
langkah, dia menemukan uang di pinggir jalan yang cukup untuk dia
makan selama satu bulan. Beberapa hari kemudian, pak pejabat menitip
kabar pada kawannya untuk segera ke rumah mengambil honor mengajar
ngaji. Pak pejabat memberikan 3 kali lipat honor ngaji guru saya
karena dia baru mendapatkan rejeki. Bukan hanya itu, pak pejabat itu
juga memberi referensi untuk mengajar ngaji di tempat temannya yang
lain.

Dengan berlinang air mata, guru saya berucap itulah balasan sedekah
yang diberikan oleh Allah pada umatnya yang benar-benar ikhlas. Dia
mengingatkan pada kami sekelas untuk senantiasa bersedekah, karena
bisa membersihkan harta dan selalu dekat denganNya. Hikmah dari
kejadian ini adalah, dengan keiklasan dan keyakinan akan
pertolonganNya, serta doa yang tiada henti, pasti rejeki akan mengalir
seperti air dalam kehidupan kita.

Jumat, 02 Desember 2011

(renungan) Saya Sering Membuat Ibu Menangis........

Ini adalah sebuah kisah,, sebuah cerita ,,, sebuah ungkapan dan curahan hati akan besarnya kasih sayang dari seorang ibu...
Kasih sayang yang tulus tanpa mengharap balasan apa-apa....

Ibu memang muara kasih, yang penuh cinta dan kasih sayang,, tapi tidak jarang kita sebagai seorang anak,, melupakan hal itu,,, kita bukan membuatnya bangga tetapi malah membuatnya menangis..... begitu juga yang pernah dan sangat sering saya lakukan....

Ini adalah kisah ku,,,, kisah penyesalan,, karna AKU SERING MEMBUAT IBU MENANGIS.....

aku adalah seorang anak ke terakhir dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan.... Aku rasa aku adalah anak yang paling beruntung karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayangi ku.... terutama ibu....

Pada suatu waktu,,, saat itu ketika aku berumur 9 tahun, aku masih duduk di bangku kelas 3 SD... Hari itu (saya lupa hari apa tepatnya) aku pulang cepat dari sekolah karena guru rapat, dan aku pun langsung berencana untuk main dengan teman2 sepulang dari sekolah.. Ketika sampai dirumah,,, terlihat ibu berdiri di teras,, menunggu ku yang sudah terlihat dari kejauhan. Dia pun menyambutku , mengajak ku masuk dan mengganti pakaian ku,,, lalu menyuruh ku makan,, tapi aku langsung menolak karna aku ingin main dengan teman2 yang sudah menunggu ku. Ibu melarang, dan baru mengizinkan pergi setelah aku makan.. aku marah, lalu langsung lari keluar rumah,,, ibu mengejar ku sambil berteriak memanggil nama ku... aku terus berlari dan tidak memperdulikannya. ketika menyebrang jalan... tiba2 aku mendengar suara deritan rem mobil,, dan ada sebuah benda keras yang menghantam tubuh ku... lalu aku tidak tahu apa2 lagi....

ketika aku terbangun,, yang ku rasakan sekujur tubuh ku terasa sakit dan ngilu,,, dan ku lihat disamping ku,,, ibu sedang menangis,, dan tiba2 ia tersenyum saat melihat aku sadar..... lalu dia mencium ku dan menangis lagi.. lalu aku bertanya... "kenapa ibu menangis,,, apakah ibu marah kepada saya?" lalu ibu menjawab.. "tidak sayang,, ibu tidak marah marah, tapi ibu hanya sedih karena ibu tidak bisa menjaga kamu".... mendengar itupun aku diam...

Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk menuruti kata2 ibu,,, karna aku tidak mau membuat ibu menangis lagi..
Tapi suatu waktu, saat itu aku duduk di kelas 2 SMP....
karena pengaruh teman2, aku melakukan sebuah kesalahan yang amat besar. aku dan 3 orang temanku mengeroyok seorang siswa baru sampai dia babak belur dan masuk rumah sakit. Karena kejadian itu kepala sekolah memanggil ibu dan mengatakan kalau aku dikeluarkan dari sekolah,, tentu saja ibu berusaha dengan sekuat tenaga agar kepala sekolah bisa memberi keringanan. tapi kepala sekolah mengatakan itu adalah tuntutan dari orang tua siswa yang kami keroyok. Tapi ibu tidak menyerah, ibu memberanikan diri dan memprtaruhkan harga dirinya untuk memohon kepada orang tua siswa tersebut untuk mencabut tuntutannya. melihat kesungguhan ibu,, akhirnya tuntutan itu pun dicabut dan aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Setelah kejadian itu,, ibu mengacuhkan aku, dia tidak pernah mau menyapa dan tidak lagi memperdulikan ku. Ke esokan harinya, ketika ayah pulang dari luar kota, ayah langsung murka setelah tau apa yang telah terjadi,, ayah menempeleng dan menghajarku sampai aku tidak bisa berbicara dan berdiri lagi..... ketika ayah ingin memberikan pukulan selanjutnya,,, tiba2 ibu berlari ke arah ku dan memelukku sambil menangis.... dia memohon kapada ayah untuk berhenti menghukumku.. lalu ayah pun pergi.
setelah ayah pergi, ibu menggendongku ke kamar,, diletakkannya aku di atas kasur dan obatinya lukaku,, aku hanya bisa meringis sambil menangis,, tapi tak bisa bersuara,,, terlihat olehku ibu juga menangis, deras sekali tangisannya dan dia juga tidak bersuara.... dia mengusap semua luka2 ku,,,, lalu dia menciumku.... terbata2 lalu aku berkata..."ibu,,, maafkan aku,,, ibu jangan menangis, apakah ibu marah pada ku?' lalu ibu menjawab... "tidak nak,, ibu menangis bukan karena ibu marah,, tapi karena ibu tidak bisa melindungimu"...
mendengar ibu berkata seperti itu,, aku menangis lebih kencang lalu memeluk ibu,,, dan dalam hati aku berjanji tak kan membuat ibu menangis lagi...

Waktu pun berganti,,
tak terasa aku sudah lulus SMA,,, dan dalam kurun waktu itu,,, aku sangat senang karena aku tak pernah membuat ibu menangis...
Tapi ketika tiba waktu aku harus pergi ke keluar kota untuk mencoba mengadu nasib... .
Aku berpamitan sebelum pergi,,, aku memeluk ayah,, kakak-kakak, dan terakhir ibu...
Kulihat ibu menangis,,, tapi terlihat sekali dia mencoba menahan tangisannya sehingga yang terdengar hanya desahan2 kecil yang semakin terdengar pilu...
Lalu aku memeluk ibu,, aku mencium nya dan mengusap air matanya... lalu aku bertanya.. "ibu, kenapa ibu menangis? apakah ibu tidak ingin aku pergi?"..
lalu ibu menjawab..."tidak nak,,, ibu menangis bukan karena ibu tidak ingin kau pergi,, tapi ibu menangis karna ibu tak tau kapan kau akan kembali"... ia menjawab sambil menangis,,, dan bagi ku itu adalah kesedihan ku.....
aku lalu menjawab.."ibu jangan khawatir,, aku akan segera kembali untuk ibu"... lalu aku pun melangkahkan kaki, naik ke bus sambil melambaikan tangan pada mereka,mereka juga melambaikan tangan, kecuali ibu yang hanya mematung dengan mata yang berurai air mata.. tak terasa air mataku jatuh,,, aku membayangkan ibu,,, pelukannya,, ciumannya,, dan kasih sayang nya,,,,yang pasti akan sangat aku rindukan......
IBU AKU AKAN KEMBALI untukmu.........

Tak terasa, setelah setahun bekerja diluar kota, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, menemui keluarga,, dan pastinya Ibu yang sudah sangat aku rindukan....
ketika aku tiba,, terlihat mereka semua sudah menungguku di terminal... terlihat ayah, kakak, dan ibu disana.... aku melihat ibu.. dia semakin tua... dan aku tiba2 membayangkan tangisannya...
dalam hati aku bertanya apakah ibu akan menangis???

aku turun dari bus dan langsung menemui mereka. ku peluk ayah, ku peluk kk, dan akhirnya kupeluk orang yang sangat ku rindukan,,, IBU...
Ibu tidak menangis,, tidak sama sekali.. malah dia tersenyum melihatku...
Melihat itu tiba2 air mataku jatuh dan aku menangis...
ibu lalu mengusap air mata ku... dan bertanya..."nak,, mengapa kau menangis?? apa kau tidak bahagia bertemu ibu?".....
lalu aku menjawab... "aku menangis bukan karena tidak bahagia menemui ibu.... tapi aku menangis karena teringat betapa sering AKU MEMBUAT IBU MENANGIS...."
lalu ibu pun menangis dan kami berpelukan....

IBU... AKU MENCINTAIMU..... dan aku berjanji aku tak kan membuatmu menangis lagi,,,, karna tangisanmu adalah kesedihanku,,, dan senyumanmu adalah kebahagiaan ku.....