Jumat, 11 Januari 2013

Habib Idrus bin Salim Aljufri, Penyebar Islam di Indonesia Timur

“Apa arti merdeka jika kita tidak bisa mendidik diri sendiri.”
Sepenggal kalimat itu meluncur dari mulut Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika Indonesia masih seumur jagung setelah mengikrarkan kemerdekaan pada 1945.
Apa yang disampaikan Habib Idrus itu sejatinya merupakan cambuk bagi semua anak negeri ini untuk membekali diri dengan ilmu.
Sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini memang dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu. Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain.
Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Inilah sumbangsih nyata Guru Tua kepada negeri ini. Alkhairaat ia dirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usianya menginjak 41 tahun.
Dan, ketika ia wafat pada usia 77 tahun, lembaga pendidikan Alkhairaat telah menyebar di kawasan timur Indonesia. Kala Guru Tua menutup mata, Alkhairaat sudah memiliki 425 madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi.
Dari hari ke hari, warisan pendidikan dari Habib Idrus terus meluas. Kini, Alkhairaat telah menyebar ke 11 provinsi di kawasan timur Indonesia. Dari sebaran itu, tercatat ada sekitar 2.000 madrasah dan sekolah Alkhairaat yang kini eksis.
“Antara Habib Idrus dan Alkhairaat ibarat sekeping mata uang yang permukaannya berbeda, tapi memiliki nilai yang sama,” kata salah satu cucunya, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Aljufri, dalam pidato haul ke-44 Habib Idrus di Palu, beberapa waktu lalu.

Lahir di Hadramaut

Meski mengabdi di Indonesia, Habib Idrus tidak lahir di negeri ini. Ia lahir pada 14 Sya’ban 1309 Hijriah atau 1889 M di Kota Taris, Provinsi Hadramaut, Yaman Selatan.
Meski lahir di “seberang”, tetapi di dalam darahnya masih mengalir garis keturunan Indonesia. Ibunya, Syarifah Nur, masih memiliki ikatan famili dengan Aru Matoa, raja di Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan. Artinya, Habib Idrus tetaplah seorang Indonesia.

Semasa kecil, Idrus bin Salim Aljufri telah memperlihatkan kecerdasan yang mumpuni, juga bakat memimpin.
Pada usia 12 tahun, misalnya, ia sudah hafal Alquran. Selain ilmu agama, ia juga menguasai ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu falak dan aljabar.
Lalu, ketika usianya menapak 19 tahun, ia mendapat amanah untuk menduduki jabatan yudikatif sebagai mufti di tanah kelahirannya. Jabatan itu membuatnya tercatat dalam sejarah sebagai mufti termuda.
Walau jabatan sudah di tangan, Idrus muda tak pernah silau dengan keduniawian. Ia tetap kritis terhadap lingkungan sosial di negerinya.
Bahkan, ia rela melepas jabatan mufti ketika memilih jalan menentang imperialisme Inggris. Sikap itu pula yang kemudian membawanya datang untuk kali kedua ke Indonesia.
Hal itu bermula ketika Habib Idrus bersama Habib Abdur Rahman bin Ubaidillah Assagaf mengadakan perjalanan ke luar tanah kelahirannya untuk menggalang opini dunia internasional atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan pihak Inggris di Yaman Selatan.
Sayang, rencana itu kandas. Ia tertangkap di Pelabuhan Aden dengan barang bukti sejumlah dokumen yang hendak dibawanya ke luar negeri.
Saat itu, pihak penguasa memberinya dua pilihan, kembali ke Hadramaut atau mengubah rute perjalanan ke Asia Tenggara. Pilihan kedualah yang dipilih Habib Idrus. Sedangkan, sahabatnya memilih kembali ke Hadramaut.
Sejarah mencatat, Habib Idrus tiba di Pulau Jawa pada 1926. Sekitar dua tahun ia berada di Jawa.
Di tanah Jawa ini ia sempat menjalin keakraban dengan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim adalah pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

 

Sebelum memutuskan hijrah ke Palu, Habib Idrus sempat mendirikan Madrasah Ar-Rabitha di Solo.
Tetapi, ikhtiarnya untuk berdakwah bukanlah di Jawa. Sempat menimbang pilihan ke Maluku dan Manado, akhirnya ia memutuskan untuk mengarungi lautan ke Palu.
Di tempat baru ini ia menemukan lingkungan yang sangat berbeda dengan di Jawa. Meski sudah ada penganut Islam, tetapi masih banyak warga di tempat ini yang melakoni ritual animisme, takhayul, dan khurafat.
Kondisi itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Habib Idrus. Meski demikian, hatinya tak pernah gamang. Tekadnya bulat untuk mengikis paham sesat yang telanjur berkembang di tempat baru ini. Ikhtiar dengan penuh keikhlasan itu ternyata membuahkan hasil.
Aktivitas dakwahnya dan lembaga pendidikan Alkhairaat yang didirikannya terus berkembang ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah, lalu menyebar ke kawasan Indonesia Timur, termasuk Papua.

Dari Gelar Pahlawan Hingga Nama Bandara
Ada harapan besar yang menyembul di tengah perayaan haul Habib Idrus ke-44 tersebut. Harapan itu adalah menganugerahkan gelar pahlawan serta menjadikan namanya sebagai nama bandara di Sulawesi Tengah.
Keinginan untuk memberikan gelar pahlawan kepada Guru Tua dibenarkan oleh Menteri Sosial, Salim Segaf Aljufri, yang juga salah satu cucu Habib Idrus. Tetapi, sebagai pihak keluarga, ia menyerahkan keputusan itu kepada masyarakat.
“Kalau kami dari keluarga menyerahkannya kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Karena apa yang dilakukan Habib Guru Tua itu secara ikhlas, tanpa pamrih,” katanya.
Titah untuk memberikan gelar pahlawan, diakui Salim Segaf, berada di bawah kewenangannya. Tetapi, ia tak mau mengintervensi. “Memang ada sekitar enam bulan di meja saya, tetapi saya sengaja tidak proses,” tuturnya.

Selain gelar pahlawan, nama Habib Idrus juga diusulkan untuk menjadi nama bandara di Sulawesi Tengah, yang sebelumnya bernama Mutiara.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali, mengusulkan penganugerahan gelar pahlawan kepada Habib Idrus yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah Sulawesi Tengah, juga Indonesia Timur.
Habib Idrus berjasa pula mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat.
“Apa yang dia lakukan sangat berpengaruh bagi perkembangan umat dan kemajuan pendidikan. Jadi, beliau sangat pantas disebut pahlawan,” kata Menag.
Selain gelar pahlawan, nama Habib Idrus juga diusulkan untuk menjadi nama bandara di Sulawesi Tengah, yang sebelumnya bernama Mutiara. Usulan tersebut kembali ditegaskan oleh Walikota Palu, Rusdy Mastura, pada peringatan haul ke-44 Guru Tua di Palu.
“Saya sudah mengusulkannya kepada DPRD agar nama lapangan terbang (bandara) Mutiara ditambah menjadi Mutiara Sayyidi Idrus bin Salim Aljufri. Insya Allah bisa cepat terwujud,” katanya.
Anggota MPR RI, Shaleh Muhammad Aljufri, juga sudah menyampaikan usulan tersebut kepada pejabat setempat.
“Nama Mutiara itu untuk menghargai Presiden Soekarno sebagai pihak yang memberikan nama Bandara Mutiara. Bagi kami, Habib Idrus adalah mutiara yang memancarkan sinarnya untuk Sulawesi Tengah sehingga nama tersebut cukup tepat,” kata Shaleh.

 

Rabu, 09 Januari 2013

Mukjizat Cinta seorang istri

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu' berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat
kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta'jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa 'Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khairin' mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah 'ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta'ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu'annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur'an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da'i besar di kota Madinah. Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa".

Berkah Balasan Sedekah

Dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, Abdullah ibnu Mubarak, ulama termasyhur abad ke-12 (1118 M/797 H) singgah di Kota Kufah, Irak. Di kota itu, ia melihat seorang wanita sedang mencabuti bulu itik di tempat sampah.


Dalam hatinya, Ibnu Mubarak merasa bahwa itik itu sudah mati dan telah menjadi bangkai. Ia pun menanyakan hal tersebut kepada si. "Apakah itik ini bangkai atau sudah disembelih?"

Wanita itu menjawab dengan tegas bahwa hewan itu sudah menjadi bangkai dan ia akan tetap mengambilnya untuk dimakan bersama keluarganya.

Karena tak ingin hal itu menimbulkan kemudharatan kepada wanita tersebut maka Ibnu Mubarak terus menanyakan. "Bukankah Nabi SAW telah mengharamkan daging bangkai?" ujar Ibnu Mubarak. Namun demikian, wanita itu tetap pada pendiriannya.

Ia pun membentak dan memerintahkan Ibnu Mubarak untuk meninggalkan dirinya dengan bangkai tersebut. "Sudah, pergilah kau dari sini!

Tapi, Ibnu Mubarak tetap bertahan dan terus menanyakannya, hingga akhirnya wanita itu membuka rahasianya. Wanita itu menjawab, "Aku mempunyai putra yang masih kecil-kecil, sudah tiga hari mereka tidak makan, sehingga aku terpaksa memberi mereka daging bangkai ini."

Mendengar jawaban sedih wanita itu, Abdullah bin Mubarak segera pergi kembali mengambil makanan dan pakaian, yang diangkut dengan menggunakan keledainya. Kemudian, ia kembali ke tempat wanita itu. Setelah bertemu muka, ia berkata, "Ini uang, pakaian, dan makanan. Ambillah berikut keledai dan segala yang ada padanya!"

Kemudian, Ibnu Mubarak tinggal di kota itu karena waktu haji telah lewat. Akhirnya, ketika orang-orang telah menunaikan haji pulang kembali ke negeri mereka, maka Abdullah pulang juga bersama mereka.

Setelah tiba di kotanya, orang-orang datang kepadanya sambil mengucapkan selamat karena telah menunaikan ibadah haji. Tetapi, Ibnu Mubarak menjawab, "Tahun ini aku tidak jadi naik haji!"

Seseorang menegurnya, "Subhanallah, bukankah aku telah menitipkan uangku kepada Anda, lalu aku ambil kembali di Arafah?" Yang lain berkata, "Bukankah Anda telah memberi minum di suatu tempat dulu?" Sementara yang lain berkata pula, "Bukankah Anda telah membelikanku ini dan itu?"

Abdullah menjawab, "Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan, sebab aku tidak jadi naik haji pada tahun ini." Pada intinya, mereka yang menemui Abdullah ibnu Mubarak menyaksikan dirinya menunaikan ibadah haji.

Pada malam harinya, di kala tidur, Abdullah ibnu Mubarak bermimpi. Ia mendengar suara gaib yang mengatakan, "Hai Abdullah, sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu dan telah mengutus seorang malaikat menyerupai dirimu untuk melaksanakan ibadah haji sebagai ganti dirimu!"

Kisah yang terdapat dalam kitab "An-Nawadir" karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini memberikan pelajaran kepada kita untuk lebih mendahulukan membantu orang yang membutuhkan uluran tangan, ketimbang melaksanakan haji berkali-kali. Apalagi bila hanya untuk memuaskan nafsu semata. Wallahu a'lam.

Jumat, 04 Januari 2013

Kisah seorang Ibu

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.

Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.



Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.

Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya.


Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.


Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.


Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.


Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.


"Bu..., tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat."


Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, "Oalah... Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya."


Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.


Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.


Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata "Subhanallah!" berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.


Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,


"Terima kasih ya Nduk... Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin... Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak... Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!"


Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata,

"Sama-sama bu... Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin...."

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah.


Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004.

Walillahil Hamd!

Sungguh dalam setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh dalam setiap kesulitan, ada kemudahan! (QS: Al - Insyirah [94] : 5-6)


Sumber : al-kauny.com


Buah keikhlasan

Beberapa waktu yg lalu dalam perjalanan Naik Bis antar Propinsi Kalimantan, dari Banjarmasin menuju Samarinda, di sebelah saya duduk seorang laki2 paruh baya yg penampilannya cukup tenang dan simpatik.

Perjalanan yg cukup panjang selama 18 jam tsb, tdk terasa melibatkan kami dalam obrolan panjang yg ternyata sangat sarat makna dan hikmah yg ingin saya sharingkan kepada teman2 semua disini.


Ini beberapa petikan percakapan tsb :



" Ke Samarinda juga Pak " Tanya saya membuka pembicaraan.

" Betul dik, saya mau pulang ke Samarinda, sdh beberapa hari ini saya di Banjarmasin " Kata Pak Budi sambil menjawab pertanyaan saya dan memperkenalkan dirinya.


"Oh..., kalau boleh tahu apa ada keluarga yg di jenguk Pak ?" Kata saya melanjutkan pembicaraan.


"Oh tidak, saya pengen buka cabang usaha saya di Banjarmasin " Jawab Pak Budi Kalem sambil tersenyum hangat.


" Wah...Bapak luar biasa sdh buka cabang baru lagi di Banjarmasin, pasti usaha Bpk maju pesat, dan kalau boleh tahu bergerak di bidang apa Pak ? " Kejar saya pengen tahu.


" Alhamdulillah, saya punya usaha rental mobil dan kursus menyetir dik. Saya sdh buka beberapa cabang di Kal-Tim dan ini mau saya lebarkan lagi usahanya ke Kal-Sel"


" Hebat Pak, pasti Bpk memang sudah merintis dan merencanakan pengembangan usaha ini dgn baik, Bpk benar2 seorang usahawan sejati " Puji saya terus terang.


"Ha..ha..inilah yg orang banyak salah sangka dik, saya sebenarnya seorang guru SD, dan sampai sekarang ini, saya juga msh aktif mengajar kok " kata Pak Budi menjelaskan sambil matanya menerawang, mungkin teringat dgn perjalanan hidupnya tsb.


" Ah..yang bener Pak, Luar biasa Bpk ini. Bagi pengalaman dong Pak, gimana caranya bisa mengembangkan usaha Bpk sampai sebesar ini ditengah Bpk sibuk utk mengajar juga. " Kejar saya lagi.


" Begini dik..., di dunia ini tdk ada yg tdk mungkin kalau Tuhan berkehendak, Adik percaya "


" Saya percaya dan yakin Pak " jawab saya.


"Begitulah yg terjadi dalam kehidupan saya Dik, saya lebih suka bilang bahwa terjadi kemu'jizatan dalam hidup saya, Tuhan telah ikut turut campur tangan yg sangat besar dalam perjalanan hidup saya shg spt sekarang ini " Pak Budi memulai ceritanya.


" Spt yg adik bilang hidup saya sdh cukup disibukkan dgn kegiatan mengajar sbg guru shg hampir tdk pernah terpikirkan utk melakukan hal2 yg lain, apalagi utk berwiraswasta, wah..terbayangk an pun tidak sebetulnya"


"Sampai suatu ketika di suatu sore, saya kedatangan seorang pemuda yg ingin mencari pekerjaan ke rumah saya"


"Awalnya saya bingung bagaimana cara bantu pemuda tsb, padahal kata pemuda tsb dia sangat perlu sekali pekerjaan utk membiayai Ibunya yg sdh tua dan adik2 nya yg msh bersekolah"


"Dalam kondisi bingung tsb, tiba2 Pemuda tsb bertanya"


"Pak, mobil yang di samping rumah itu mobil Bpk" tanya Pemuda tsb.


"Betul, jawab saya. Tapi itu mobil Colt tua, sering mogok, jarang saya pakai, karena lebih enak naik motor" jawab saya

Kepada Pemuda tsb.

"Bapak gimana kalau saya yg perbaikin mobil Bpk tsb, kebetulan saya tahu sedikit ttg mesin, nanti kalau sdh baik saya bawa mobil tsb utk saya taxi kan, mengenai upah saya, saya percayakan kepada Bpk saja pembagiannya, yg penting saya bisa kerja Pak" mohon pemuda tsb.


Karena memang niat saya awalnya ikhlas pengen banget menolong pemuda tsb, tentu saja permintaan Pemuda itu langsung saya setujui, bahkan seluruh pengelolaan mobil tsb saya percayakan saja kepada dia, karena saya tetap harus konsentrasi utk mengajar....


" Dan Masya Allah, ternyata kalau niat kita utk menolong orang lain tsb ikhlas, Allah mempermudah semua urusan dan menggantinya dgn berlipat ganda, usaha taxi mobil tsb terus berkembang. Dari mobil tua bisa di ganti dgn mobil baru, dari 1 mobil jadi 2, dari 2 jadi 4, dan terus bertambah bahkan sekarang kami sdh bisa membuka usaha baru berupa Kursus dan private Menyetir bagi para pemula "


Saya terus menyimak cerita Pak Budi tsb, sambil merenung bahwa hidup ini sebenarnya mudah kalau kita memang selalu ingat ada ALLAH tempat kita bersandar.


Ada ALLAH tempat kita meminta....