Kamis, 10 November 2011

Kisah qurban "Yu Timah"

Milis Yayasan Sedekah.net,
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.
Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.
Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.
Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
“Mau ambil berapa?” tanya saya.
“Enam ratus ribu, Pak.”
“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?” Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal
itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Reff: RESONANSI – Republika, Ahmad Tohari

 

Selasa, 01 November 2011

Renungan Menyambut Idul Adha

Setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sdg memperhatikan
dagangan kami, Dilihat dari penampilannya sepertinya gak akan beli. Namun
saya coba hampiri dan menawarkan. "Silahkan bu. ibu itu menunjuk, "Kalau
yg itu berapa bang?" Ibu itu menunjuk hewan yg paling murah.

Kalau yg itu harganya 600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?, 500rb deh.
harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. "Uang saya Cuma ada 450rb,
boleh gak". Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya
berembug. "Biarlah.."

Sayapun mengantar hewan ibu, Ketika sampai di rumah ibu tersebut.
Astaghfirullaah.. Allahu Akbar, terasa mengigil seluruh badan demi melihat
keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dgn ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk
berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya
dipan kayu beralas tikar lusuh.

Diatas dipan sdg tertidur seorang nenek tua kurus. "Mak..bangun mak, nih
liat Sumi bawa apa", perempuan tua itu terbangun. " Mak Sumi udah beliin
kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak.

Orang tua itu kaget namun bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua
itu berucap, Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.

"Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya ke murahan, saya hanya kuli
cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yg mau saya niatkan
buat qurban ibu saya.

duh GUSTI...Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu
ini. HambaMU yg Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini
setelah mendengar niat dari ibu ini.

"Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, "sudah bu, biar ongkos bajaj
saya yg bayar. Saya cepat pergi sblm ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah
krn tak sanggup mendapat teguran dari Allah yg sudah mempertemukan dgn
hambaNYA yg dgn kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan
orang tuanya....Subhanallah

Senin, 28 Maret 2011

FW: 40 Tahun Berbuat Dosa

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata:

"Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan  untuk kami!"

 Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahwa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.

 

Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: "Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.

 

Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.

 

Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

 

Nabi Musa kembali berkata: "Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?" Allah berfirman: "Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!."

 

Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: "Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, karena kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!"

 

Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: "Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT."

 

Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini."   Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari atas langit.

 

Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: "Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?"    

Allah berfirman: "Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu."

 Nabi Musa berkata: "Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?"

 Allah berfirman: "Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

 

(Dikutip dari buku: "1001 Keinsafan "Kisah-kisah Insan Bertaubat. Oleh: Kasmuri Selamat M A)

 

Rabu, 26 Januari 2011

Hutang dan Siksa Kubur

Kisah ini adalah kisah Sayyid Ali seorang yang mulia alim dan wara'. 
Dia adalah putera seorang ulama besar, seorang faqih (seorang
mujtahid) yang mulia, teladan dalam perjalanan ruhani Al-Amir Sayyid Hasan bin Al-Amir Sayyid Muhammad Baqir bin Al-Amir Ismail Al-Isfahani. Ia berkisah sebagai berikut:

Setelah ayahku Allamah (orang yang sangat alim) meninggal, aku tinggal di Masyhad (Iran), sibuk menuntut ilmu. Sampai sekarang aku tidak banyak tahu tentang urasan ayahku secara detail, yang tahu adalah saudara-saudaraku. Setelah tujuh bulan dari wafatnya ayahku ibuku meninggal, dan jenazahnya dibawa dan dikuburkan di Najef (Irak).

Tidak lama kemudian aku bermimpi: seolah-olah aku duduk di rumahku. 
Ketika ayahku masuk, aku berdiri dan mengucapkan salam, kemudian ia duduk di depanku, dan menyapaku dengan lemah lembut, dan aku tahu bahwa ia telah meninggal.
Lalu aku bertanya: Bukankah ayah meninggal di Isfahan?
Ayahku menjawab: Ya, tapi mereka memindahkan aku ke Najef, dan aku sekarang tinggal di sana.
Aku bertanya: Ibu di dekat ayah?
Ayahku menjawab: Tidak
Aku bertanya: Ibu tidak tinggal di Najef?
Ayahku menjawab: Ya, tapi di tempat yang lain.
Aku baru tahu bahwa tempat tinggal orang yang alim lebih mulia dari orang yang tidak alim.
Kemudian aku bertanya tentang keadaannya.
Ayahku menjawab: Dahulu aku kuburku kesempitan, dan sekarang Alhamdulillah dalam keadaan yang baik, kesempitan dan himpitan itu menghilang dariku.

Aku heran atas kejadian itu, dan dengan heran aku bertanya: Ayah dalam kesempitan?
Ayahku menjawab: Ya, karena Haji Ridha bin A`a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan keburukan keadaanku.
Aku bertambah heran, lalu aku terbangun dari tidurku dalam keadaan takut dan heran. Kemudian aku mengirim surat kepada saudaraku tentang wasiat ayahku dalam mimpiku. Dalam suratku aku bertanya, apakah ayah punya hutang kepada orang tersebut, atau tidak? Ia membalas suratku, dalam suratnya saudaraku mengatakan: Aku sudah membuka buku harian ayah, tapi aku tidak menemukan nama orang tersebut; lalu aku mengirim surat lagi untuk kedua kalinya, agar menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Lalu saudaraku menjawab suratku: setelah aku tanya pada orang tersebut ternyata benar ayahku pernah berutang kepadanya.

Orang tersebut berkata: Ya, ayahmu punya hutang kepadaku sebesar delapan belas Tuman (mata uang Iran), dan tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah. Setelah wafatnya aku pernah bertanya kepadamu: 
apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu, kamu menjawab tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak, karena aku pernah meminjamkan uang padanya tanpa bukti secarik kertas, dan aku yakin ia tidak mencatat dalam buku hariannya, kemudian saat itu aku pulang dengan hati yang kecewa.

Kemudian saudaraku berkata kepadanya bahwa aku bermimpi hal itu, dan akan membayarkan hutang ayahku. Kemudian orang tersebut berkata: 
Karena berita dari saudaramu ini, sekarang hutangnya aku relakan dan aku ikhlaskan.
Kisah ini dikutip oleh Syeikh An-Nuri (ra) dalam kitabnya Dar As-Salam 2: 164.

Jumat, 03 Desember 2010

Kisah Musa a.s Bertani Gandum

Musa a.s adalah seorang nabi besar, seorang dari ulul azmi, pemimpin bani Israil dan orang yang diajak berbincang oleh Allah AWJ (Kalamullah). Salah satu yang menyebabkan beliau bisa mendapatkan kedudukan yang sedemikian mulia itu adalah kecintaannya pada ilmu dan pengetahuan. Beliau senang belajar, bertafakkur dan bertanya tentang segala rahasia alam semesta.

Suatu kali, didorong rasa ingin tahunya yang besar beliau ingin berdialog dengan TuhanNya.
" Ya Rabbku, izinkan aku bertanya kepadaMu tentang sesuatu hal yang mengganggu pikiran dan benakku " pinta Musa a.s dalam munajatnya " Tanyakanlah Wahai Musa, sesungguhnya engkau diizinkan untuk itu" Jawab Allah Rabbul 'Alamiin, dan Dia sesungguhnya lebih mengetahui akan isi benak Musa, akan tetapi Dia ingin memberikan pelajaran bagi Musa dan ummat setelahnya.
" Ya Rabbku, aku mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada di jagad ini melainkan adalah buah kuasaMu semata, dan aku pula mengetahui bahwa adalah kasih sayangMu adalah meliputi segala makhluk, akan tetapi wahai Rabbku, apakah sebabnya engkau menyiksa sebagian makhlukMu (jin dan manusia) dengan membakarnya dalam api neraka ? "
" Wahai Musa, Aku akan menjawabnya, akan tetapi aku memintamu untuk bertani dahulu, tanamlah gandum hingga ia dapat dipanen"
Musa yang belum memahami sepenuhnya maksud Tuhannya tetap menjalankan titah tersebut dengan kelapangan dada. Beliau mengetahui bahwa Allah tengah mendidiknya dengan kalam dan perbuatan, dan adalah Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Akhirnya Musa a.s pun bertani gandum. Minggu pertama dipilihnya benih-benih yang unggul lagi berkualitas untuk kemudian dia tebar dengan teratur. Minggu selanjutnya benih yang mulai tumbuh subur dipindahkannya dengan hati-hati ke ladang gandum yang subur yang telah diolahnya terlebih dahulu.
Nabi Musa a.s merawat tanaman itu selayaknya membesarkan anak sendiri, beliau merawatnya dengan tekun, mengairi dan memupuknya dengan teratur, memperhatikan pertumbuhannya dengan cermat, menjaganya dari segala hama dan binatang pengganggu. Siang malam beliau habiskan untuk menjaga tanamannya agar tumbuh optimal dan menghasilkan.
Tiada terasa, genap sudah 6 bulan beliau bertanam gandum, hari ini tiba waktunya beliau memanen.
Dengan dibantu oleh beberapa ummatnya, beliau memanen gandum yang begitu berlimpah hasilnya.
Betapa gembira hatinya, teriring syukur yang mendalam pada Tuhannya atas karunia yang mengagumkan itu. Suka cita beliau bukan hanya karena hasil panen yang begitu berlimpah, akan tetapi karena telah dekat waktu turunnya wahyu yang akan menjawab pertanyaan yang menggantung dalam benaknya sejak 6 bulan silam.
Sesudah memanen beliau pisahkan hasil yang baik dan yang buruk, yang buruk kemudian dikumpulkan menjadi satu gundukan bersama batang-batang gandum serta bagian lain yang tiada berguna.
Sebagaimana kebiasaan para petani, segala jerami, batang, daun serta bagian lain yang tidak bermanfaat kemudian dibakar hingga kering. Hasil pembakaran berupa arang itu kemudian disebar dan diaduk beserta tanah. Hal itu karena sisa sekam bermanfaat bagi peningkatan kesuburan tanah yang kekurangan unsur hara sehabis dipanen.

Tiada terasa hari telah sore, dan acara panen telah selesai. Musa beserta sahabatnya memabawa hasil panen dengan memasukkannya kedalam kemasan terbaik untuk kemudian akan disimpan di tempat yang aman lagi bagus. Selesai acara memanen itu, Musa bersuci untuk kemudian shalat dan bermunajat pada TuhanNya di kegelapan malam.
"Duhai Rabbku yang Maha Pemurah, sungguh telah kutunaikan perintahMu, maka sudilah kiranya Engkau terangkan padaKu akan hikmah dan hakikatnya.
"Wahai Musa, sungguh Aku telah memuliakanmu dengan kenabian dan keutamaan berbincang denganKu, maka coba jelaskan kepadaku ketika engkau memanen tadi, mengapakah engkau tega membakar sisa panenanmu itu?"
"Ya Tuhanku, sesungguhnya sisa itu tiada berguna lagi, justru ia bermanfaat bagi kesuburan tanah bila dibakar dan disebar"
"Mengapa begitu Musa, bukankah engkau
memperlakukan segala tanaman itu selayaknya buah hatimu sendiri. Engkau pilih mereka yang siap ditanam, engkau airi dengan cermat dan memberi pupuk dengan teratur, engkau pula menjaganya dari segala hama dan binatang pengganggu, engkau memperhatikannya dengan segala kasih sayangmu.
Akan tetapi, betapa tega hatimu ya Musa melenyapkan bagian yang tiada berguna dengan membakarnya, apakah engkau tiada menyukainya lagi ?"
" Wahai Tuhanku, sungguh bukan demikian maksudku, akan tetapi bagaimanakah hamba bisa memanfaatkan sisa sekam dan jerami itu, dimakan tiada dapat, diberi ternak pun tiada sehat. Justru dengan dibakar dan menjadi abu, dia bermanfaat bagi kami semua "
" Wahai Musa, sungguh pertanyaanmu dahulu terjawab sudah. Maka sesungguhnya bukan karena pilih kasihKu pada sebagian hambaKu, akan tetapi pantaskah sesuatu yang mulia lagi bermanfaat dikumpulkan dengan hal yang tiada berguna lagi hina. Sungguh telah Aku muliakan anak cucu adam di segala penjuru bumi, Aku penuhi mereka dengan kenikmatan dan rezeki tiada tara, Aku lindungi mereka dengan segala kasih sayangKu dari segala mara bahaya. Akan tetapi sedikit sekali diantara kalian yang bersyukur kepadaKu, justru kalian memilih menjauh dari rahmat dan petunjukKu sembari memalingkan wajah. Maka menempatkan mereka di nerakaKu adalah bentuk kasih sayangKu yang terakhir bagi mereka, agar mereka setidaknya mampu bermanfaat meskipun menjadi arang dan abu yang hina"
Maka Musa a.s serta merta bersujud dengan airmata yang deras membanjiri tempat sujudnya.
Sungguh jawaban yang dia cari selama ini, ada di depan matanya.
_______________________________________________________
Betapa sering kita menyalahkan Allah atas segala kesialan dan problema kita, Tuhan yang tidak adil, Tuhan yang pilih kasih, Tuhan yang tiada peduli, demikianlah hujat dan caci kita kepadaNya, akan tetapi pernahkah kita bertanya mengapa pula kita memilih menjadi jerami tiada berguna dan bukan biji gandum yang penuh manfaat ?
Selagi sempat dan nafas masih mengiring hayat, mari tekadkan diri untuk terus bermanfaat bagi sesama hingga masa panen tiba, dan kita berkumpul bersama dalam jamuanNya yang mulia dalam syurga yang mempesona.