Senin, 28 Maret 2011

FW: 40 Tahun Berbuat Dosa

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata:

"Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan  untuk kami!"

 Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahwa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.

 

Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: "Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.

 

Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.

 

Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

 

Nabi Musa kembali berkata: "Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?" Allah berfirman: "Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!."

 

Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: "Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, karena kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!"

 

Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: "Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT."

 

Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini."   Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari atas langit.

 

Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: "Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?"    

Allah berfirman: "Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu."

 Nabi Musa berkata: "Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?"

 Allah berfirman: "Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

 

(Dikutip dari buku: "1001 Keinsafan "Kisah-kisah Insan Bertaubat. Oleh: Kasmuri Selamat M A)

 

Rabu, 26 Januari 2011

Hutang dan Siksa Kubur

Kisah ini adalah kisah Sayyid Ali seorang yang mulia alim dan wara'. 
Dia adalah putera seorang ulama besar, seorang faqih (seorang
mujtahid) yang mulia, teladan dalam perjalanan ruhani Al-Amir Sayyid Hasan bin Al-Amir Sayyid Muhammad Baqir bin Al-Amir Ismail Al-Isfahani. Ia berkisah sebagai berikut:

Setelah ayahku Allamah (orang yang sangat alim) meninggal, aku tinggal di Masyhad (Iran), sibuk menuntut ilmu. Sampai sekarang aku tidak banyak tahu tentang urasan ayahku secara detail, yang tahu adalah saudara-saudaraku. Setelah tujuh bulan dari wafatnya ayahku ibuku meninggal, dan jenazahnya dibawa dan dikuburkan di Najef (Irak).

Tidak lama kemudian aku bermimpi: seolah-olah aku duduk di rumahku. 
Ketika ayahku masuk, aku berdiri dan mengucapkan salam, kemudian ia duduk di depanku, dan menyapaku dengan lemah lembut, dan aku tahu bahwa ia telah meninggal.
Lalu aku bertanya: Bukankah ayah meninggal di Isfahan?
Ayahku menjawab: Ya, tapi mereka memindahkan aku ke Najef, dan aku sekarang tinggal di sana.
Aku bertanya: Ibu di dekat ayah?
Ayahku menjawab: Tidak
Aku bertanya: Ibu tidak tinggal di Najef?
Ayahku menjawab: Ya, tapi di tempat yang lain.
Aku baru tahu bahwa tempat tinggal orang yang alim lebih mulia dari orang yang tidak alim.
Kemudian aku bertanya tentang keadaannya.
Ayahku menjawab: Dahulu aku kuburku kesempitan, dan sekarang Alhamdulillah dalam keadaan yang baik, kesempitan dan himpitan itu menghilang dariku.

Aku heran atas kejadian itu, dan dengan heran aku bertanya: Ayah dalam kesempitan?
Ayahku menjawab: Ya, karena Haji Ridha bin A`a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan keburukan keadaanku.
Aku bertambah heran, lalu aku terbangun dari tidurku dalam keadaan takut dan heran. Kemudian aku mengirim surat kepada saudaraku tentang wasiat ayahku dalam mimpiku. Dalam suratku aku bertanya, apakah ayah punya hutang kepada orang tersebut, atau tidak? Ia membalas suratku, dalam suratnya saudaraku mengatakan: Aku sudah membuka buku harian ayah, tapi aku tidak menemukan nama orang tersebut; lalu aku mengirim surat lagi untuk kedua kalinya, agar menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Lalu saudaraku menjawab suratku: setelah aku tanya pada orang tersebut ternyata benar ayahku pernah berutang kepadanya.

Orang tersebut berkata: Ya, ayahmu punya hutang kepadaku sebesar delapan belas Tuman (mata uang Iran), dan tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah. Setelah wafatnya aku pernah bertanya kepadamu: 
apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu, kamu menjawab tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak, karena aku pernah meminjamkan uang padanya tanpa bukti secarik kertas, dan aku yakin ia tidak mencatat dalam buku hariannya, kemudian saat itu aku pulang dengan hati yang kecewa.

Kemudian saudaraku berkata kepadanya bahwa aku bermimpi hal itu, dan akan membayarkan hutang ayahku. Kemudian orang tersebut berkata: 
Karena berita dari saudaramu ini, sekarang hutangnya aku relakan dan aku ikhlaskan.
Kisah ini dikutip oleh Syeikh An-Nuri (ra) dalam kitabnya Dar As-Salam 2: 164.

Jumat, 03 Desember 2010

Kisah Musa a.s Bertani Gandum

Musa a.s adalah seorang nabi besar, seorang dari ulul azmi, pemimpin bani Israil dan orang yang diajak berbincang oleh Allah AWJ (Kalamullah). Salah satu yang menyebabkan beliau bisa mendapatkan kedudukan yang sedemikian mulia itu adalah kecintaannya pada ilmu dan pengetahuan. Beliau senang belajar, bertafakkur dan bertanya tentang segala rahasia alam semesta.

Suatu kali, didorong rasa ingin tahunya yang besar beliau ingin berdialog dengan TuhanNya.
" Ya Rabbku, izinkan aku bertanya kepadaMu tentang sesuatu hal yang mengganggu pikiran dan benakku " pinta Musa a.s dalam munajatnya " Tanyakanlah Wahai Musa, sesungguhnya engkau diizinkan untuk itu" Jawab Allah Rabbul 'Alamiin, dan Dia sesungguhnya lebih mengetahui akan isi benak Musa, akan tetapi Dia ingin memberikan pelajaran bagi Musa dan ummat setelahnya.
" Ya Rabbku, aku mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada di jagad ini melainkan adalah buah kuasaMu semata, dan aku pula mengetahui bahwa adalah kasih sayangMu adalah meliputi segala makhluk, akan tetapi wahai Rabbku, apakah sebabnya engkau menyiksa sebagian makhlukMu (jin dan manusia) dengan membakarnya dalam api neraka ? "
" Wahai Musa, Aku akan menjawabnya, akan tetapi aku memintamu untuk bertani dahulu, tanamlah gandum hingga ia dapat dipanen"
Musa yang belum memahami sepenuhnya maksud Tuhannya tetap menjalankan titah tersebut dengan kelapangan dada. Beliau mengetahui bahwa Allah tengah mendidiknya dengan kalam dan perbuatan, dan adalah Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Akhirnya Musa a.s pun bertani gandum. Minggu pertama dipilihnya benih-benih yang unggul lagi berkualitas untuk kemudian dia tebar dengan teratur. Minggu selanjutnya benih yang mulai tumbuh subur dipindahkannya dengan hati-hati ke ladang gandum yang subur yang telah diolahnya terlebih dahulu.
Nabi Musa a.s merawat tanaman itu selayaknya membesarkan anak sendiri, beliau merawatnya dengan tekun, mengairi dan memupuknya dengan teratur, memperhatikan pertumbuhannya dengan cermat, menjaganya dari segala hama dan binatang pengganggu. Siang malam beliau habiskan untuk menjaga tanamannya agar tumbuh optimal dan menghasilkan.
Tiada terasa, genap sudah 6 bulan beliau bertanam gandum, hari ini tiba waktunya beliau memanen.
Dengan dibantu oleh beberapa ummatnya, beliau memanen gandum yang begitu berlimpah hasilnya.
Betapa gembira hatinya, teriring syukur yang mendalam pada Tuhannya atas karunia yang mengagumkan itu. Suka cita beliau bukan hanya karena hasil panen yang begitu berlimpah, akan tetapi karena telah dekat waktu turunnya wahyu yang akan menjawab pertanyaan yang menggantung dalam benaknya sejak 6 bulan silam.
Sesudah memanen beliau pisahkan hasil yang baik dan yang buruk, yang buruk kemudian dikumpulkan menjadi satu gundukan bersama batang-batang gandum serta bagian lain yang tiada berguna.
Sebagaimana kebiasaan para petani, segala jerami, batang, daun serta bagian lain yang tidak bermanfaat kemudian dibakar hingga kering. Hasil pembakaran berupa arang itu kemudian disebar dan diaduk beserta tanah. Hal itu karena sisa sekam bermanfaat bagi peningkatan kesuburan tanah yang kekurangan unsur hara sehabis dipanen.

Tiada terasa hari telah sore, dan acara panen telah selesai. Musa beserta sahabatnya memabawa hasil panen dengan memasukkannya kedalam kemasan terbaik untuk kemudian akan disimpan di tempat yang aman lagi bagus. Selesai acara memanen itu, Musa bersuci untuk kemudian shalat dan bermunajat pada TuhanNya di kegelapan malam.
"Duhai Rabbku yang Maha Pemurah, sungguh telah kutunaikan perintahMu, maka sudilah kiranya Engkau terangkan padaKu akan hikmah dan hakikatnya.
"Wahai Musa, sungguh Aku telah memuliakanmu dengan kenabian dan keutamaan berbincang denganKu, maka coba jelaskan kepadaku ketika engkau memanen tadi, mengapakah engkau tega membakar sisa panenanmu itu?"
"Ya Tuhanku, sesungguhnya sisa itu tiada berguna lagi, justru ia bermanfaat bagi kesuburan tanah bila dibakar dan disebar"
"Mengapa begitu Musa, bukankah engkau
memperlakukan segala tanaman itu selayaknya buah hatimu sendiri. Engkau pilih mereka yang siap ditanam, engkau airi dengan cermat dan memberi pupuk dengan teratur, engkau pula menjaganya dari segala hama dan binatang pengganggu, engkau memperhatikannya dengan segala kasih sayangmu.
Akan tetapi, betapa tega hatimu ya Musa melenyapkan bagian yang tiada berguna dengan membakarnya, apakah engkau tiada menyukainya lagi ?"
" Wahai Tuhanku, sungguh bukan demikian maksudku, akan tetapi bagaimanakah hamba bisa memanfaatkan sisa sekam dan jerami itu, dimakan tiada dapat, diberi ternak pun tiada sehat. Justru dengan dibakar dan menjadi abu, dia bermanfaat bagi kami semua "
" Wahai Musa, sungguh pertanyaanmu dahulu terjawab sudah. Maka sesungguhnya bukan karena pilih kasihKu pada sebagian hambaKu, akan tetapi pantaskah sesuatu yang mulia lagi bermanfaat dikumpulkan dengan hal yang tiada berguna lagi hina. Sungguh telah Aku muliakan anak cucu adam di segala penjuru bumi, Aku penuhi mereka dengan kenikmatan dan rezeki tiada tara, Aku lindungi mereka dengan segala kasih sayangKu dari segala mara bahaya. Akan tetapi sedikit sekali diantara kalian yang bersyukur kepadaKu, justru kalian memilih menjauh dari rahmat dan petunjukKu sembari memalingkan wajah. Maka menempatkan mereka di nerakaKu adalah bentuk kasih sayangKu yang terakhir bagi mereka, agar mereka setidaknya mampu bermanfaat meskipun menjadi arang dan abu yang hina"
Maka Musa a.s serta merta bersujud dengan airmata yang deras membanjiri tempat sujudnya.
Sungguh jawaban yang dia cari selama ini, ada di depan matanya.
_______________________________________________________
Betapa sering kita menyalahkan Allah atas segala kesialan dan problema kita, Tuhan yang tidak adil, Tuhan yang pilih kasih, Tuhan yang tiada peduli, demikianlah hujat dan caci kita kepadaNya, akan tetapi pernahkah kita bertanya mengapa pula kita memilih menjadi jerami tiada berguna dan bukan biji gandum yang penuh manfaat ?
Selagi sempat dan nafas masih mengiring hayat, mari tekadkan diri untuk terus bermanfaat bagi sesama hingga masa panen tiba, dan kita berkumpul bersama dalam jamuanNya yang mulia dalam syurga yang mempesona.

Rabu, 10 November 2010

sebuah Renungan...semoga bisa menambah kecintaan kita kepada Rasulullah

Tak bosan-bosan rasanya membaca kisah ini.Dan Tak Akan pernah Merasa Bosan

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur
Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak
dikenang."Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah
yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata
Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang
menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di
atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah
lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar
ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.
"Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku,
hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut
ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena
sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera
mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
"peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Diluar
pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku,
umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran
itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya
Rasulullah kepada kita.

Senin, 11 Oktober 2010

Hikmah

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami' At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.
Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.
 
Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.
 
Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, 'A'udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?' Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.
 
Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, 'Apakah kamu sudah menikah?', dijawab, 'Belum,'. Syaikh itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?'. Syaikh itu menjawab, 'Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin', kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, 'Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya'. Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?', ia menjawab 'Ya'. Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, 'peganglah tangan isterimu!' Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.
 
Sang isteri bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: 'heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!'. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, 'Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.
 
Diceritakan oleh : Syaikh Ali Ath-Thanthawi