Rabu, 20 Februari 2013

doa minum air zam-zam


أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْئَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا,
ALLAHUMMA INNII AS'ALUKA ILMAN NAAFI'AN,
Ya Allah Aku memohon padamu ilmu yang manfaat,


وَرِزْقًا وَاسِعًا,
WARIZQON WAASI'AN,
rizqi yang luas,


وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ.
WASYIFA'AN MINKULLI DAA-IN.
obat dari segala penyakit.
(رواه الحاكم)
(HR. Al-_Haakim)

 

اللهم إني أشربه مستشفيا به فاشفني

ALLAHUMMA INNII ASYROBUHU MUSTASYFIYAN BIHI FASYFINII

Ya Allah sesungguhnya saya minum air zam-zam dengan harapan mendapatkan kesembuhan, maka berilakan kesembuhan kepadaku
Lihat kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 183

 

Rabu, 30 Januari 2013

Mbah Pawiro

Jogja, 1985

Aku ingat sosok bungkuk berambut putih itu, jalannya cepat dengan kain jarik yang membalut tubuhnya, namanya Mbah Pawiro, orang-orang di desaku memanggilnya mbah Ro untuk menyingkat namanya. Di usianya yang sudah sepuh mbah Ro tidak pernah diam, dia masih sering keliling desa, ke sawah dan bertandang ke rumah tetangga. Rumahnya di barat desa sangat sederhana, hanya bangunan bambu dengan dinding dari gedeg (bambu anyaman) di semua sisinya. Kata ibuku mbah Ro putri ini dulu waktu muda adalah ledek (penari) yang  berkeliling dari desa kedesa, sampai akhirnya menikah dengan mbah Pawiro Kakung dan tinggal di desa ini. Mereka tidak memiliki anak, dimasa tuanya mbah Ro merawat 3 orang anak kecil yang ditinggal mati ibunya.. mereka piatu, sementara ayahnya jadi duda yang tidak bekerja. Tiga anak inilah yang tiap hari dimandikan, diberi makan oleh mbah Ro.

Hari menjelang magrib, Bapakku yang tugas jadi tentara di Jakarta hari ini pulang ke desa, bapak jadi orang yang dihormati di desa waktu itu, tentara yang pulang dengan seragam hijaunya, para tetangga sering menyapa jika bapak pulang... “ooo Pak Ratno sampun kundur..”

Mbak Pawiro datang kerumah sore itu, dengan badan bungkuknya dia bertemu dengan bapak di ruang tamu, aku mendengar percakapan mereka.

“duuuh Pak Ratnooo.., kulo nyuwun tulung nek wonten beras kagem putu-putu kulo, niki sek esuk dereng kelebon sekul...” mbah Pawiro nembung beras untuk tiga anak yang diasuhnya itu. Suaranya mengayun menghiba mohon belas kasihan, Bapak memberi beberapa lembar uang ribuan yang cukup untuk membeli beberapa liter beras waktu itu, Mbah Pawiro menghujani dengan ucapan terimakasih yang tercecer-cecer hingga ke jalan...

Begitulah wanita bekas ledek itu menutup hari tuanya, merawat anak-anak tanpa orang tua yang kelaparan, hingga akhir hidupnya, bahkan dia rela menjadi peminta-minta agar perut anak-anak itu tidak kelaparan dan tidur dengan perut penuh rintihan....

Mbah Pawiro meninggal hari itu.. segenap tetangga mengantar dengan hikmat hingga ke pemakaman, anak-anak tanpa ibu yang di rawatnya kini kehilangan simbah yang melindunginya.

 

Hari berlalu, bulan, tahun berganti...

Hari ini Mbah Pawiro kakung meninggal dunia, 7 tahun sudah sejak Mbah Pawiro putri menghadap Illahi, warga sepakat simbah kakung dimakamkan bersebelahan dengan simbah Putri. Warga yang bertugas menggali kubur mulai mencangkul tanah disamping makam itu. Satu-persatu tanah dalam ember diangkat keatas, hingga kedalaman dua meter mereka melihat sesuatu yang ajaib di depan mata mereka. Kain kafan yang membungkus jenazah Mbah Pawiro putri masih putih bersih, utuh, tidak rusak walaupun tujuh tahun sudah berlalu, walaupun terpendam di dalam tanah bersama ulat, cacing dan jutaan makhluk pengurai.. Para warga yang terkesima dengan pemandangan itu lalu merapikan sisi kain kafan yang menonjol, memberi ruang yang rapi untuk jenazah mbah Pawiro kakung yang akan dimakamkan sore nanti...

Cerita itu menjadi bahan pembicaraan turun temurun di desaku, hingga ibuku bercerita kepadaku sambil kami ngobrol di meja makan minggu lalu..

 

 

Dikutip dari blog tetangga

SEBUAH KISAH TENTANG KEBAIKAN

Suatu hari saya naik angkutan kota menuju Terminal. Pengemudi angkot itu adalah seorang pemuda.

Didalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yg belum terisi.

Di tengah jalan, angkot2 saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh.

Di depan angkot yg kami tumpangi, ada seorang ibu dgn 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan.

Tiap ada angkot yg berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yg kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”.

Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.”

Sambil tersenyum, supir itu menjawab “gak papa Bu, naik saja”, ketika si Ibu tampak ragu2,

supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak papa ..”

Saya terpesona dgn kebaikan Supir angkot yg masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang,

tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu & anak2nya.

Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.

Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp.20 ribu.

Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya & 4 penmpang gratisan tadi.

“Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu ...

Sore itu saya benar2 dibuat kagum dengan kebaikan2 kecil yg saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yg baik hati, &

seorang penumpang yg budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita!

Jumat, 11 Januari 2013

Habib Idrus bin Salim Aljufri, Penyebar Islam di Indonesia Timur

“Apa arti merdeka jika kita tidak bisa mendidik diri sendiri.”
Sepenggal kalimat itu meluncur dari mulut Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika Indonesia masih seumur jagung setelah mengikrarkan kemerdekaan pada 1945.
Apa yang disampaikan Habib Idrus itu sejatinya merupakan cambuk bagi semua anak negeri ini untuk membekali diri dengan ilmu.
Sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini memang dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu. Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain.
Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Inilah sumbangsih nyata Guru Tua kepada negeri ini. Alkhairaat ia dirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usianya menginjak 41 tahun.
Dan, ketika ia wafat pada usia 77 tahun, lembaga pendidikan Alkhairaat telah menyebar di kawasan timur Indonesia. Kala Guru Tua menutup mata, Alkhairaat sudah memiliki 425 madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi.
Dari hari ke hari, warisan pendidikan dari Habib Idrus terus meluas. Kini, Alkhairaat telah menyebar ke 11 provinsi di kawasan timur Indonesia. Dari sebaran itu, tercatat ada sekitar 2.000 madrasah dan sekolah Alkhairaat yang kini eksis.
“Antara Habib Idrus dan Alkhairaat ibarat sekeping mata uang yang permukaannya berbeda, tapi memiliki nilai yang sama,” kata salah satu cucunya, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Aljufri, dalam pidato haul ke-44 Habib Idrus di Palu, beberapa waktu lalu.

Lahir di Hadramaut

Meski mengabdi di Indonesia, Habib Idrus tidak lahir di negeri ini. Ia lahir pada 14 Sya’ban 1309 Hijriah atau 1889 M di Kota Taris, Provinsi Hadramaut, Yaman Selatan.
Meski lahir di “seberang”, tetapi di dalam darahnya masih mengalir garis keturunan Indonesia. Ibunya, Syarifah Nur, masih memiliki ikatan famili dengan Aru Matoa, raja di Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan. Artinya, Habib Idrus tetaplah seorang Indonesia.

Semasa kecil, Idrus bin Salim Aljufri telah memperlihatkan kecerdasan yang mumpuni, juga bakat memimpin.
Pada usia 12 tahun, misalnya, ia sudah hafal Alquran. Selain ilmu agama, ia juga menguasai ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu falak dan aljabar.
Lalu, ketika usianya menapak 19 tahun, ia mendapat amanah untuk menduduki jabatan yudikatif sebagai mufti di tanah kelahirannya. Jabatan itu membuatnya tercatat dalam sejarah sebagai mufti termuda.
Walau jabatan sudah di tangan, Idrus muda tak pernah silau dengan keduniawian. Ia tetap kritis terhadap lingkungan sosial di negerinya.
Bahkan, ia rela melepas jabatan mufti ketika memilih jalan menentang imperialisme Inggris. Sikap itu pula yang kemudian membawanya datang untuk kali kedua ke Indonesia.
Hal itu bermula ketika Habib Idrus bersama Habib Abdur Rahman bin Ubaidillah Assagaf mengadakan perjalanan ke luar tanah kelahirannya untuk menggalang opini dunia internasional atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan pihak Inggris di Yaman Selatan.
Sayang, rencana itu kandas. Ia tertangkap di Pelabuhan Aden dengan barang bukti sejumlah dokumen yang hendak dibawanya ke luar negeri.
Saat itu, pihak penguasa memberinya dua pilihan, kembali ke Hadramaut atau mengubah rute perjalanan ke Asia Tenggara. Pilihan kedualah yang dipilih Habib Idrus. Sedangkan, sahabatnya memilih kembali ke Hadramaut.
Sejarah mencatat, Habib Idrus tiba di Pulau Jawa pada 1926. Sekitar dua tahun ia berada di Jawa.
Di tanah Jawa ini ia sempat menjalin keakraban dengan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim adalah pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

 

Sebelum memutuskan hijrah ke Palu, Habib Idrus sempat mendirikan Madrasah Ar-Rabitha di Solo.
Tetapi, ikhtiarnya untuk berdakwah bukanlah di Jawa. Sempat menimbang pilihan ke Maluku dan Manado, akhirnya ia memutuskan untuk mengarungi lautan ke Palu.
Di tempat baru ini ia menemukan lingkungan yang sangat berbeda dengan di Jawa. Meski sudah ada penganut Islam, tetapi masih banyak warga di tempat ini yang melakoni ritual animisme, takhayul, dan khurafat.
Kondisi itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Habib Idrus. Meski demikian, hatinya tak pernah gamang. Tekadnya bulat untuk mengikis paham sesat yang telanjur berkembang di tempat baru ini. Ikhtiar dengan penuh keikhlasan itu ternyata membuahkan hasil.
Aktivitas dakwahnya dan lembaga pendidikan Alkhairaat yang didirikannya terus berkembang ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah, lalu menyebar ke kawasan Indonesia Timur, termasuk Papua.

Dari Gelar Pahlawan Hingga Nama Bandara
Ada harapan besar yang menyembul di tengah perayaan haul Habib Idrus ke-44 tersebut. Harapan itu adalah menganugerahkan gelar pahlawan serta menjadikan namanya sebagai nama bandara di Sulawesi Tengah.
Keinginan untuk memberikan gelar pahlawan kepada Guru Tua dibenarkan oleh Menteri Sosial, Salim Segaf Aljufri, yang juga salah satu cucu Habib Idrus. Tetapi, sebagai pihak keluarga, ia menyerahkan keputusan itu kepada masyarakat.
“Kalau kami dari keluarga menyerahkannya kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Karena apa yang dilakukan Habib Guru Tua itu secara ikhlas, tanpa pamrih,” katanya.
Titah untuk memberikan gelar pahlawan, diakui Salim Segaf, berada di bawah kewenangannya. Tetapi, ia tak mau mengintervensi. “Memang ada sekitar enam bulan di meja saya, tetapi saya sengaja tidak proses,” tuturnya.

Selain gelar pahlawan, nama Habib Idrus juga diusulkan untuk menjadi nama bandara di Sulawesi Tengah, yang sebelumnya bernama Mutiara.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali, mengusulkan penganugerahan gelar pahlawan kepada Habib Idrus yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah Sulawesi Tengah, juga Indonesia Timur.
Habib Idrus berjasa pula mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat.
“Apa yang dia lakukan sangat berpengaruh bagi perkembangan umat dan kemajuan pendidikan. Jadi, beliau sangat pantas disebut pahlawan,” kata Menag.
Selain gelar pahlawan, nama Habib Idrus juga diusulkan untuk menjadi nama bandara di Sulawesi Tengah, yang sebelumnya bernama Mutiara. Usulan tersebut kembali ditegaskan oleh Walikota Palu, Rusdy Mastura, pada peringatan haul ke-44 Guru Tua di Palu.
“Saya sudah mengusulkannya kepada DPRD agar nama lapangan terbang (bandara) Mutiara ditambah menjadi Mutiara Sayyidi Idrus bin Salim Aljufri. Insya Allah bisa cepat terwujud,” katanya.
Anggota MPR RI, Shaleh Muhammad Aljufri, juga sudah menyampaikan usulan tersebut kepada pejabat setempat.
“Nama Mutiara itu untuk menghargai Presiden Soekarno sebagai pihak yang memberikan nama Bandara Mutiara. Bagi kami, Habib Idrus adalah mutiara yang memancarkan sinarnya untuk Sulawesi Tengah sehingga nama tersebut cukup tepat,” kata Shaleh.

 

Rabu, 09 Januari 2013

Mukjizat Cinta seorang istri

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu' berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat
kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta'jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa 'Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khairin' mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah 'ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta'ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu'annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur'an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da'i besar di kota Madinah. Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa".