Kamis, 24 April 2014

Arti sebuah ketulusan

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton. Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika elewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Jumat, 18 April 2014

Cara membujuk istri yang sedang marah

"Sebaik-Baik Lelaki Adalah Yang Paling Baik Dan Lemah Lembut Kepada Isterinya" (Al-Hadist)

Berikut ini merupakan beberapa tips mengatasi jikalau sang istri sedang marah" 1. Seorang istri ketika marah pasti ada alasannya, dan hendaknya sang suami membicarakannya baik-baik apa yg menyebabkan sang istri marah, karena hal ini sangat penting.

2. ketika sang istri marah-marah di depanmu, hendaknya suami harus terima hal itu. Biarkanlah amarahnya reda. Jangan pernah kamu membantahnya, karena hal itu akan memperburuk keadaan.

no.2 ini dapat diambil pelajarannya pada kisah Umar r.a, suatu ketika istrinya marah2, namun sang khalifah tetap diam, dan ia hanya berkata "bagaimana mungkin aku membalas kemarahannya istriku sedangkan ia yg merawatku dan merawat anak-anakku"

4. ketika sang suami memang melakukan sebuah kesalahan yg membuat istrinya marah, hendaknya suami minta maaf dengan setulus-tulusnya dan kemudian ajaklah sang istri untuk sedikit bercanda. agar tercipta suasana yg nyaman.

5. apabila semua langkah diatas belum berhasil, ajaklah istrimu pergi ke tempat yg spesial khusus kalian berdua, di sana buat keadaan seromantis mungkin. ajaklah bercanda, dan apabila ada senyum yang terpancar dari wajahnya, berarti sang suami telah berhasil melunakkan hati sang istri.

Rabu, 16 April 2014

15 PERKARA PENYEBAB BALA

1.Apabila kekuasaan dianggap keuntungan.
2.Amanat dianggap ghanimah.
3.Membayar zakat dianggap merugikan.
4.Suami tunduk pada isterinya.
5.Durhaka terhadap ibu.
6.Mentaati kawan yang menyimpang dari kebenaran.
7.Menbenci ayah.
8.Bersuara keras (menjerit jerit) di masjid.
9.Pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhlaknya.
10.Orang ditakuti (dihormati) karena kejahatannya.
11.Minum arak bebas dimana-mana
12.Semakin banyak (lelaki) memakai sutera.
13.Wanita menari di tempat umum dianggap perkara biasa.
14.Permainan musik merajalela
15.Umat akhir zaman ini seenaknya mengutuk umat permulaan termasuk para sahabat Nabi SAW, tabi'in dan para imam muktabar.

Rabu, 26 Maret 2014

Kisah jamaah umroh indonesia

Pesawat berjenis Boeing 747-400 telah melaju menembus gelapnya awan. Tidak terasa, sudah hampir lebih enam jam pesawat dengan konfigurasi double deck dan berkapasitas 506 tempat duduk ini berjalan. Jam menunjukkan hampir subuh. Para penumpang yang mayoritas adalah jamaah umroh ini masih terlihat pulas. Beberapa di antaranya masih terlihat mendengkur, bersaing dengan deru suara pesawat. Tiba-tiba, seorang terdengar suara pramugari mengumumkan, tanda shalat Subuh telah tiba. Seorang penumpang, berbadan tinggi besar, di dereten kursi no 27 D, berdiri dan menghadap ke belakang. "Bapak-bapak, ibu-ibu, silahkan ambil tayammum dan kita shalat subuh berjamaah," ujarnya. Setelah lima menit, setelah 26 penumpang di belakangnya siap, ia baru memulai menjadi imam dengan suara keras. Bahkan suara "Amin" saat ia usai membaca surah Al-Fatihah begitu keras terdengar. Meski suara makmum terdengar bergemuruh memenuhi ruang pesawat, sebagian besar di antara mereka tetap menikmati tidur. Beberapa di antaranya ada yang tergugah dan cepat-cepat mengikuti shalat begitu mendengar suara keras "amin" dari makmum. Tetapi sebagaian yang lain justru menarik selimutnya dari terpaaan Air Conditioner (AC). Pria tinggi besar itu bernama Ahmad Rosyidin. Seorang pembimbing umroh dan haji dari Mihrob Qolbi, Jakarta, yang saat itu sedang membawa jamaah umroh sebanyak 26 orang. Lebih 30 menit berlalu, awak kabin yang tampil wangi dan rapi (yang wanita menggunakan jilbab) datang membawa makanan. Menarik, karena tiba-tiba, jamaah yang tadi terlihat tidur pulas, tiba-tiba bangun dan memesan makanan. Dua jam setelah awak kabin membersihkan sisa makanan dan menarik selimut, ia mengumumkan sebentar lagi, pesawat akan mendarat. "Sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Cengkareng. Silahkan memasang sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi," ujarnya. Hingga pesawat landing dengan mulus tepat pukul 08.15 pagi waktu Indonesia, banyak penumpang terlihat belum shalat subuh. Hingga akhirnya semua penumpang bersiap turun. Sebagian menyalakan handphone dan Blakcberry (BB) masing-masing. Seorang jamaah muda, berteriak dengan kencang. "Chelsea menang 4:3," ujarnya pada kerabatnya di bangku belakang. Rupanya, ia baru saja membuka berita dari sebuah situs online, pertandingan memperebutkan trofi Liga Champions antara Chelsea dengan Bayern Munich dalam drama adu penalti. *** Bukan Semata Bisnis Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang aneh bagi jamaah haji atau umroh asal Indonesia. Tak sedikit jemaah asal Indonesia tidak paham adab dan hukum-hukum memasuki tanah haram. Yang menyedihkan, banyak di antara mereka tak bisa membedakan kehadirannya di Kota Suci Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah karena panggilan Allah Subhanahu Wata'ala semata. Pernah di sebuah media nasional, jamaah haji di seluruh dunia dikejutkan dengang nada dering dari handphone seorang jamaah asal Indonesia yang yang kala itu sedang thawaf. Bukan apa-apa, kala itu, nada deringnya berbunyi keras dengan nada lagu "goyang dombret" di dekat Ka'bah. Kasus seperti ini diakui Sholeh (bukan nama sebenarnya). Mahasiswa tahun kedua di Universitas Ummul Quro' Saudi Arabiyah ini menuturkan, dirinya kadang bersedih melihat tingkah-pola jamaah haji dan umroh asal Indonesia. Pria yang mengaku telah dua tahun menjadi pembantu pembimbing jamaah haji dan umroh ini mengeluh, karena seringnya ia mendapat pertanyaan dari warga Saudi atau warga asing yang beribadah di tanah suci tentang kejanggalan dan hal-hal yang dinilai aneh tentang warga Indonesia. Pernah dalam perjalanan umroh di tahun 2009, dia hampir dibuat malu oleh salah satu jamaahnya, kebetulan istri seorang pejabat di Jakarta, berangkat ke Masjid Haram Makkah dengan dandanan menor. "Dari hotel, dia sudah mengenakan pakaian (maaf) menor dan memperlihatkan lekuk-tubuhnya," ujarnya mengenang. Hal-hal lain yang juga sering membuatnya malu dan membuat ia sering diledek warga lokal (Saudi), adalah jamaah umroh yang dengan gaya penuh menggoda saat menawar barang-barang di toko atau di di jalan sepulang dari shalat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. "Padahal, bagi warga Saudi, adalah aib besar, seorang wanita menawar dengan gaya seperti itu. Apalagi tanpa mahram." Akibat ulah jamaah itu, ia sering dibuat malu. Sehingga orang-orang Arab dan Timur Tengah punya kesan, wanita-wanita asal Indonesia itu gampangan. "Ya shodiq, mereka ini Tamu Allah atau plesir?", begitu seorang teman Arab nya pernah bertanya tentang perilaku jamaah asal Indonesia. Sholeh menilai, dari pengalamannya menjadi pembantu pembimbing, dua hal yang menyebabkan itu terjadi. Pertama, banyak jamaah kurang paham tentang; adab, akhlaq, sikap dan fikih (hukum) ketika mereka datang ke Kota Suci. Kedua, kurangnya pembimbingan yang memadai dari perusahaan pemberangkatan jamaah haji dan umroh (KBIH), tentang untuk apa dan bagaimana seharusnya datang ke Tanah Suci. Berdasarkan pengalaman itulah, Ahmad Rosyidin dari Mihrob Qolbi mengakui, menejemen di KBIH nya sepakat dalam urusan mengantar jamaah haji dan umroh yang "tidak biasa". "Tidak biasa" yang dia maksud adalah melayani jamaah haji dan umroh tidak semata-mata bisnis, tapi ada sisi lain, yakni berhidmat membantu jamaah mendapatkan sesuatu dalam perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT tersebut. "Salah satu akad perjanjian yang kami rasakan paling berat saat menjadi pembimbing adalah pasal dimana mengatakan bahwa sah dan tidaknya ibadah jamaah itu ada di tangan pembimbing," ujar Rasyidin. Karena itulah, Rasyidin mengaku, sejak sebelum berangkat, sampai pada perjalanan pertama hingga akhir, jamaahnya terus mendapat bimbingan dan ada evaluasi yang ketat. Khususnya menyangkut adab, tata-krama di Kota Suci hingga masalah-masalah menyangkut fikih ibadah. Bahkan yang menarik, bimbingan dan pembinaan ruhani ini terus dilakukan, sampai jamaah pulang ke tanah air. Ia megakui, selama beberapa kali mengantar jamaah, belum ada sikap aneh-aneh dari jamaahnya saat menjadi Tamu Allah. Menurutnya, ini terjadi karena bimbingan dan pengawasan dilakukan terus-menerus. Bukan apa-apa, hal-hal kecil sangat diperhatikan. Termasuk tentang adab dan akhlak saat masuk ke tanah suci, tentang cara berpakaian, perilaku menghadapi pedagang saat belanja dll. Ia pernah memperhatikan kasus lucu sekaligus menyedihkan. Di mana ia mendapati seorang jamaah umroh dari KBIH tertentu yang berbisik pada temanya, jika ia masih menggunakan celana dalam saat masih menggunakan pakaian ihram. Ada juga yang lain, beberapa jamaah asal Indonesia melakukan sa'i di Sofa dan Marwah menggunakan baju biasa. Rosyidin khawatir, kasus-kasus seperti itu akan terus terjadi jika semua yang berkaitan dengan masalah haji dan umroh sekedar urusan bisnis. Padahal seharusnya tidak begitu. "Kami menilai, haji dan umroh ini kan urusan dengan Allah, namanya saja mereka di sebuh sebagai tamu Allah. Karena itu, seharusnya, urusan haji dan umroh tidak semata-mata hanya urusan bisnis, tapi ada faktor lain, yakni, ibadah. Yakni, bagaimana bisa beramal untuk mengantar orang memenuhi panggilan Allah secara sempurna agar ketika pulang, ibadahnya benar-benar mabrul dan makbul," tambah Rasyidin yang mengaku pernah menjadi "ajudan" dai kondang, KH Abdullah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym ini. Sebut saja Abdul Rasyid (54), seorang pejabat di seuah institusi pemerintahan di Jakarta mengakutelah puluhan kali haji (apalagi umroh). Selama itu pula, ia sering berganti KBHI dan pembimbing haji. Dari pengalamannya itu, mantan aktivis masjid kampus ini mengakui, sedikit perusahaan jasa penyelenggara haji dan umroh yang secara ketat mengawasi dan melayani jamaahnya dalam urusan ibadah. Umumnya, begitu tiba di Tanah Suci, pihak pembimbing melepas begitu saja jamaahnya, seolah-olah mereka itu sudah paham semua. "Saya menemui seorang yang ketika hampir pulang, dia tidak bisa membedakan mana Raudah dan makam Nabi," ujarnya saat saya temui di sebuah hotel di depan Majidil Haram. Ada pula yang menurutnya sudah umum terjadi, baik jamaah haji atau umroh. Jika sudah pulang dan berada di Bandara Jeddah, semua perilaku dan dandanan aslinya tatkala di Tanah Air, muncul kembali.Seolah mereka lupa baru saja menghadap Allah. "Kalau sudah di Bandara, bisa kita lihat tuh gaya aslinya. Tadinya rapi menutup aurat, langsung tampil seronok kembali. Bahkan tadinya khusu' di masjid, belum satu hari, di pesawat saja sudah tidak sholat." Karenanya, Abdul Rasyid menyarankan para calon jamaah memilihi KBIH dan pembimbing yang benar. Bukan apa-apa, alangkah sia-sia nya mengeluarkan uang, tetapi sesungguhnya ibadah kita belum tentu di terima. "Kasihan kan, sudah keluar uang banyak, taunya ibadahnya banyak yang batal alias tidak diterima. Udah gitu, kita ke sono (Tanah Suci) kan menghadiri undangan Allah. Rugi jika kehadiran kita justru hanya sekedar plesir, gak dapat apa-apa," ujarnya.*

Selasa, 24 September 2013

:: Kisah Pengorbanan Seorang Ibu Dalam Bencana
Gempa Jepang ::
Ini adalah kisah nyata Pengorbanan Ibu selama
Gempa Jepang. Setelah Gempa telah mereda,
ketika para penyelamat mencapai reruntuhan
rumah seorang wanita muda, mereka melihat
mayat-nya melalui celah-celah.
Tapi wanita tersebut berpose begitu aneh, dia
berlutut seperti seseorang yang menyembah;
tubuhnya condong ke depan, dan dua tangan yang
mendukung oleh suatu benda. Rumah roboh telah
menimpa punggung dan kepalanya. Dengan begitu
banyak kesulitan, pemimpin tim penyelamat
meletakkan tangannya melalui celah sempit di
dinding untuk mencapai tubuh wanita itu. Dia
berharap bahwa wanita ini bisa jadi masih hidup.
Namun, tubuh dingin dan kaku menandakan bahwa
wanita tsb pasti telah meninggal.Pemimpin tim dan
seluruh anggota tim lalu meninggalkan rumah ini
dan akan mencari gedung yang runtuh berikutnya.
Namun karena alasan tertentu, pemimpin tim
terdorong untuk kembali ke rumah hancur dari
wanita tadi. Pemimpin tim ini lalu berlutut lagi dan
menggunakan kepalanya melalui celah-celah
sempit untuk mencari sedikit ruang di bawah mayat
wanita tersebut.
Tiba-tiba, ia berteriak dengan gembira, "Anak kecil!
Ada anak kecil!"Lalu seluruh tim bekerja bersama-
sama, dengan hati-hati mereka menyingkirkan
tumpukan benda hancur di sekitar wanita yang
sudah meninggal. Ada seorang anak kecil berusia 3
bulan terbungkus selimut bunga-bunga di bawah
mayat ibunya. Jelas, wanita itu telah membuat
pengorbanan untuk menyelamatkan anaknya.
Ketika rumahnya jatuh, ia menggunakan tubuhnya
untuk membuat penutup untuk melindungi anaknya.
Anak itu masih tidur pulas ketika pemimpin tim
mengangkatnya.Para dokter datang cepat untuk
mengevakuasi anak kecil itu. Setelah ia membuka
selimut, ia melihat sebuah ponsel di dalam selimut.
Ada pesan teks pada layar. Dikatakan, "Jika kamu
dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku
mencintaimu." Ponsel ini berkeliling dari satu
tangan ke tangan yang lain pada tim itu. Setiap
tubuh yang membaca pesan tersebut menangis.
"Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus
ingat bahwa aku mencintaimu." Itu artinya cinta ibu
untuk anaknya!
Hargailah Ibu Anda saat ini karena bagaimanapun
kondisinya IBU kita pasti akan berusaha untuk
melindungi kita.